Yang Butuh Nggak Dapat. Yang Dapat Nggak Butuh
Kita hidup di negara yang sering bangga bilang:
“Bansos untuk rakyat.”
Tapi kenyataannya?
Banyak yang butuh malah nggak kekebagian.
Dan yang memang sudah mampu… bangga pake sembako dari negara.
Pernyataan resmi dari pemerintah bahkan mengakui:
📉 45% bansos tidak tepat sasaran.
Bayangkan, dari anggaran subsidi dan bantuan sosial sebesar Rp500 triliun, hampir setengahnya bisa meleset.
Artinya, ratusan triliun rupiah "salah alamat".
Masalahnya klasik:
- Data lama tidak pernah diperbarui.
- Masing-masing kementerian punya versi sendiri.
- Daerah merasa paling tahu, tapi pusat merasa paling sah.
- Warga miskin terus diminta isi formulir baru, tapi datanya nggak pernah nyambung.
Padahal kalau kita tarik ke belakang, akar masalah ini sudah kelihatan sejak kacau-balau-nya program e-KTP puluhan tahun lalu.
Kita telat digitalisasi, dan waktu mulai digitalisasi pun—seringnya cuma asal jadi.
Awal tahun ini, pemerintah bikin langkah baru lagi:
DTSEN – Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional.
Satu basis data baru yang menggabungkan DTKS (Kemensos), Regsosek (BPS), dan P3KE (Bappenas).
Dikelola langsung oleh BPS, dengan mandat dari Inpres No. 4/2025:
- Semua data bansos sekarang harus satu sumber.
- Daerah tidak boleh bikin versi sendiri lagi.
- Pemutakhiran dilakukan tiap 3 bulan.
- Bisa diverifikasi langsung sampai level desa.
Dan hasilnya?
- Pemerintah mencoret 1,9 juta keluarga dari penerima PKH & BPNT karena terbukti tidak layak
- Anggaran negara dihemat Rp15 triliun hanya dalam 1 triwulan
- Data penerima lebih merata dan benar-benar berasal dari kelompok termiskin (desil 1)
Nah, inilah pentingnya punya sistem data yang terpusat dan terkelola baik. Manfaatnya bisa ke mana-mana.
Tapi mari jujur juga:
Metode sekarang masih andalkan survey dan sinkronisasi manual.
Sampai kapan bisa bertahan dengan cara begini?
Padahal dunia data sudah bergerak cepat.
- Real-time.
- Terhubung.
- Tinggal kita: mau ikut atau terus tertinggal.
Buat yang kerja di sektor publik atau swasta:
Kalau sistem kalian sudah menghasilkan data,
itu lama-lama bukan aset, tapi cost.
Operasional data itu butuh biaya — untuk disimpan, dikelola, dan diamankan. Kalau tidak diolah jadi insight, ya itu jadi beban.
Maka perlu kolaborasi. Perlu integrasi.
Kalau kamu tertarik diskusi soal tata kelola data dan bagaimana sistem bisa saling ngobrol,
DM saya atau langsung ke → https://lnkd.in/gwVDP9rE





