Banyak yang ngomongin AI, tapi sedikit yang benar-benar ngerti:
AI itu bukan tukang sulap.
Beberapa waktu lalu saya fasilitasi satu sesi diskusi bareng narasumber expert mas Ruby Abdullah yang selama ini betul-betul turun ke lapangan — mengerjakan proyek AI di perusahaan tambang dan manufaktur.
Dan ini… benar-benar eye opening.
Karena beda dari “AI-AI"-an yang isinya cuma demo chatbot,
ini adalah AI nyata yang membantu:
- Predictive Maintenance
- Smart Safety Monitoring
- Anomaly Detection (CCTV)
- Fatigue Detection System
- Vehicle Speed Monitoring
Di industri seperti mining, AI bukan sekadar hype.
Tapi jadi alat bantu yang real — untuk keselamatan, efisiensi, dan pengambilan keputusan.
Tapi tentu, jalan ke sana gak instan.
Ada 3 tantangan utama adopsi AI yang terus berulang kami temui:
1. Data Harus Rapi Dulu
Banyak perusahaan datanya masih semi-manual.
AI butuh “bahan bakar” berupa data yang terstruktur, digital, dan cukup volume-nya.
Jadi ya, harus mulai dari digitalisasi dulu.
2. SDM Harus Siap
AI bukan instal-trus-ditinggal.
Perlu orang yang bisa fine-tuning, monitoring, sampai scaling ke use case baru.
Dan ini bukan sekadar engineer — tapi mindset digital dari semua lini.
3. Infrastruktur Harus Mendukung
Area tambang sering terkendala sinyal, jaringan, dan proses data lambat.
Maka setup data pipeline, server, edge device — semua harus diperhitungkan sejak awal.
Yang bikin semangat, diskusi ini jadi pembuka mata:
AI yang nyata bisa banget membantu pekerjaan manusia.
Asal gak dibawa dengan ekspektasi “magic,” tapi pendekatan sistemik dan realistis.
📩 Kalau kamu ingin ngobrol lebih dalam:
tentang adopsi AI di tempat kamu, atau bingung mulai dari mana —
**Yuk ngobrol bareng saya di**:
→ https://lnkd.in/gwVDP9rE
🟡 Atau kalau kamu ingin ikut diskusi seru lainnya,
gabung komunitas Tech Voice Indonesia.
Kita punya program “Pekan Pintar AI” 2x sebulan, dengan narasumber berpengalaman yang gak jualan buzzword.
→ https://lnkd.in/gR4hdQhf





