Dulu IT Itu Tukang Benerin. Sekarang IT Harus Bisa “Ngomong” ke Manusia.
Saya tumbuh di era ketika IT bukan produk utama, tapi support sekitar 20 tahun yang lalu.
Di awal karier, hampir 10 tahun saya hidup sebagai IT support di sistem ERP besar—khususnya di industri mining.
Perannya jelas: tukang benerin.
Kalau sistem error, IT dipanggil.
Kalau user bingung, IT jelasin.
Model kerjanya pun khas:
- Outsourcing global → extension dari principal
- Outsourcing lokal → disewakan ke klien Indonesia
Model ini masih hidup sampai hari ini.
Di korporasi besar.
Di BUMN.
Di pemerintahan.
Di telco seperti Telkomsel, XL, dan kawan-kawan.
Ciri utamanya satu:
software dibuat untuk fungsi, bukan untuk manusia.
Aplikasinya rigid.
Flow-nya kaku.
Pakai sistem? Siap-siap baca manual book atau ikut training.
Kenapa bisa begitu?
1️⃣ Karena software dibuat untuk internal user (staff & karyawan), bukan publik.
2️⃣ Dirancang oleh Business Analyst yang kuat di governance & project management—bukan experience.
3️⃣ Selalu ada sosialisasi & training, jadi UX jelek dianggap “wajar”.
Masalah muncul ketika model ini dipaksa dipakai publik.
Masyarakat nggak mau—dan nggak punya waktu—baca manual.
Setelah itu, saya masuk ke dunia startup.
Dan di sinilah saya melihat pergeseran besar.
Di startup:
- Software adalah produk utama
- UX adalah harga mati
- Aplikasi harus bisa bicara sendiri Tanpa manual. Tanpa training.
Di sinilah peran Product Manager jadi kunci.
Sejak boom startup sekitar 2010, practice product berkembang pesat.
Experience pengguna jadi standar.
Makanya:
Tokopedia terasa “maskulin”.
Shopee terasa “feminin”.
Bukan kebetulan—itu desain berbasis user.
Saya merasa beruntung bisa hidup di dua era besar:
IT as support dan IT as main product.
Sekarang dunia masuk fase digital transformation.
Artinya: IT yang masih merasa “cukup jadi support” harus move on.
Karena generasi berikutnya—Gen Z—tech-savvy.
Mereka nggak mau dilatih.
Mereka mau langsung bisa pakai.
Kalau transisi ini gagal, yang terjadi bukan transformasi—
tapi destruction.
Tugas kita yang hari ini ada di posisi decision maker—
di perusahaan, di pemerintahan—
adalah menjembatani dua era ini dengan smooth.
Saya akan terus sharing pemikiran, tips, dan pelajaran dari lapangan.
Tempat ngobrol praktis soal tech, product, dan bisnis—biar transformasi nggak berhenti di slide, tapi kejadian di dunia nyata.





