Masuk

Membangun Startup2 menit baca

Traveloka.

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Traveloka.   Karya Anak Bangsa yang Pelan-pelan Ditinggalkan.

Traveloka.
Karya Anak Bangsa yang Pelan-pelan Ditinggalkan.

Dulu, Traveloka lahir dari mimpi yang sederhana tapi besar.
Membuat orang Indonesia lebih mudah terbang.
Meningkatkan occupancy kursi pesawat.
Menggerakkan hotel, UMKM, dan pariwisata Indonesia.

Dan mimpi itu berhasil.
Pariwisata hidup.
Akses makin mudah.
Ribuan anak muda Indonesia ikut membangun teknologinya dari nol.

Tapi hari ini, ceritanya terasa berbeda.
Dan kali ini… lebih nyesek dari biasanya.

Kalau sebelumnya kita sering dengar alasan:
“Efisiensi.”
“Profitabilitas.”
“Market slowdown.”

Kali ini istilahnya berubah:
Reduce to replace

Bukan sekadar mengurangi.
Tapi mengurangi untuk mengganti.

Tim teknologi di Indonesia—yang membangun backbone produk ini bertahun-tahun—satu per satu disingkirkan.
Bukan karena tidak mampu.
Bukan karena tidak relevan.
Tapi karena akan digantikan oleh tim di negara lain.

Sebagai orang yang lama hidup di dunia tech, ini bukan sekadar berita layoff.
Ini pukulan emosional.

Karena:

  • Produk ini lahir di Indonesia.
  • Dibangun oleh anak-anak muda Indonesia.
  • Dipakai oleh jutaan orang Indonesia.
  • Menghidupkan pariwisata Indonesia.

Tapi pada akhirnya…
teknologinya tidak lagi dipercaya untuk dibangun di negeri sendiri.

Dan itu menyakitkan.

Yang lebih bikin bingung adalah pertanyaan ini:

  • Kalau karya sebesar ini saja akhirnya “diambil alih”,
  • kalau talenta yang membangun dari nol bisa begitu saja diganti,
  • lalu anak muda Indonesia harus berharap ke siapa?

Ke pasar?
Ke investor?
Ke negara?
Atau ke mimpi itu sendiri?

Dan ketika teknologi sebagai backbone bangsa pelan-pelan dipindahkan keluar,
yang tertinggal bukan cuma gedung kantor kosong—
tapi harapan banyak anak muda yang pernah percaya:
“Kalau kita kerja keras, kita bisa bangun sesuatu untuk negeri sendiri.”

Entah kenapa, hari ini rasanya campur aduk.
Marah? Iya.
Sedih? Banget.
Bingung harus berharap ke siapa? Jujur, iya.

Semoga cerita seperti ini tidak jadi takdir permanen.
Semoga kita masih bisa membangun ekosistem tech
yang tidak hanya melahirkan unicorn,
tapi juga melindungi talenta yang membesarkannya.

Kalau tidak,
karya anak bangsa akan terus jadi cerita indah di awal—
dan pahit di ujung.


🟡 Kalau kamu ingin berdiskusi, berbagi cerita, atau sekadar tidak merasa sendirian,

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Membangun Startup

Seed-Strapping: Era Baru Startup Tanpa Bakar Uang
Membangun Startup

26 Feb2 mnt

Seed-Strapping: Era Baru Startup Tanpa Bakar Uang

The New Startup Playbook: No More "Growth at All Costs" Dulu, strategi founder itu sederhana: Raise besar-besaran. Bakar uang untuk grow secepat mungkin. Kejar status unicorn, lalu exit. Tapi sekarang, landscape sudah…

Chaos banget beberapa minggu ini.
Membangun Startup

13 Jul2 mnt

Chaos banget beberapa minggu ini.

Chaos banget beberapa minggu ini. Rasanya setiap bangun pagi… selalu ada berita baru. Kasus demi kasus. Drama demi drama. Yang membuat saya paling khawatir bukan siapa yang menang atau kalah. Tapi trust yang semakin…

Kelapa Sawit, Banjir Bandang, dan Ingatan yang Jangan Cepat Hilang
Membangun Startup

17 Des2 mnt

Kelapa Sawit, Banjir Bandang, dan Ingatan yang Jangan Cepat Hilang

Kelapa Sawit, Banjir Bandang, dan Ingatan yang Jangan Cepat Hilang Beberapa minggu lalu, Sumatera luluh lantak. Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat—banjir bandang, longsor, desa hilang, ribuan nyawa melayang. Lalu saya…

Sudah 2 Tahun Ini… Kita Sebenarnya Sedang Tidak Baik-Baik Saja.
Membangun Startup

30 Mar2 mnt

Sudah 2 Tahun Ini… Kita Sebenarnya Sedang Tidak Baik-Baik Saja.

Sudah 2 Tahun Ini… Kita Sebenarnya Sedang Tidak Baik-Baik Saja. Kalau jujur, ini bukan sekadar “perasaan”. Beberapa angka ini cukup jadi alarm: Rupiah sempat mendekati 17.000/USD IHSG terkoreksi di kisaran 7.000-an…

Dulu waktu saya kerja di perusahaan software development, hampir semua pekerjaan bentuk…
Membangun Startup

5 Mar2 mnt

Dulu waktu saya kerja di perusahaan software development, hampir semua pekerjaan bentuk…

Dulu waktu saya kerja di perusahaan software development, hampir semua pekerjaan bentuknya project. Client datang. Requirement dibuat. Timeline disepakati. Tim kerja beberapa bulan. Sistem selesai. Deliver. Done. Lalu…

← Semua tulisan