Traveloka.
Karya Anak Bangsa yang Pelan-pelan Ditinggalkan.
Dulu, Traveloka lahir dari mimpi yang sederhana tapi besar.
Membuat orang Indonesia lebih mudah terbang.
Meningkatkan occupancy kursi pesawat.
Menggerakkan hotel, UMKM, dan pariwisata Indonesia.
Dan mimpi itu berhasil.
Pariwisata hidup.
Akses makin mudah.
Ribuan anak muda Indonesia ikut membangun teknologinya dari nol.
Tapi hari ini, ceritanya terasa berbeda.
Dan kali ini… lebih nyesek dari biasanya.
Kalau sebelumnya kita sering dengar alasan:
“Efisiensi.”
“Profitabilitas.”
“Market slowdown.”
Kali ini istilahnya berubah:
Reduce to replace
Bukan sekadar mengurangi.
Tapi mengurangi untuk mengganti.
Tim teknologi di Indonesia—yang membangun backbone produk ini bertahun-tahun—satu per satu disingkirkan.
Bukan karena tidak mampu.
Bukan karena tidak relevan.
Tapi karena akan digantikan oleh tim di negara lain.
Sebagai orang yang lama hidup di dunia tech, ini bukan sekadar berita layoff.
Ini pukulan emosional.
Karena:
- Produk ini lahir di Indonesia.
- Dibangun oleh anak-anak muda Indonesia.
- Dipakai oleh jutaan orang Indonesia.
- Menghidupkan pariwisata Indonesia.
Tapi pada akhirnya…
teknologinya tidak lagi dipercaya untuk dibangun di negeri sendiri.
Dan itu menyakitkan.
Yang lebih bikin bingung adalah pertanyaan ini:
- Kalau karya sebesar ini saja akhirnya “diambil alih”,
- kalau talenta yang membangun dari nol bisa begitu saja diganti,
- lalu anak muda Indonesia harus berharap ke siapa?
Ke pasar?
Ke investor?
Ke negara?
Atau ke mimpi itu sendiri?
Dan ketika teknologi sebagai backbone bangsa pelan-pelan dipindahkan keluar,
yang tertinggal bukan cuma gedung kantor kosong—
tapi harapan banyak anak muda yang pernah percaya:
“Kalau kita kerja keras, kita bisa bangun sesuatu untuk negeri sendiri.”
Entah kenapa, hari ini rasanya campur aduk.
Marah? Iya.
Sedih? Banget.
Bingung harus berharap ke siapa? Jujur, iya.
Semoga cerita seperti ini tidak jadi takdir permanen.
Semoga kita masih bisa membangun ekosistem tech
yang tidak hanya melahirkan unicorn,
tapi juga melindungi talenta yang membesarkannya.
Kalau tidak,
karya anak bangsa akan terus jadi cerita indah di awal—
dan pahit di ujung.
🟡 Kalau kamu ingin berdiskusi, berbagi cerita, atau sekadar tidak merasa sendirian,





