Sudah 2 Tahun Ini… Kita Sebenarnya Sedang Tidak Baik-Baik Saja.
Kalau jujur, ini bukan sekadar “perasaan”.
Beberapa angka ini cukup jadi alarm:
- Rupiah sempat mendekati 17.000/USD
- IHSG terkoreksi di kisaran 7.000-an
- Harga minyak dunia tembus $100+ / barrel
- Dan di dalam negeri, daya beli terasa makin tertahan
Belum lagi munculnya sinyal sosial seperti
Sampai beberapa waktu lalu sempat ada kericuhan yang bikin kita semua khawatir.
Dan sekarang?
Tekanan global makin tidak menentu.
Efeknya bukan cuma ke negara besar.
Semua kena.
Mungkin ini waktunya kita jujur ke diri sendiri:
Kita lagi masuk mode survival.
Kalau dari sisi individu (pekerja):
-
Mulai lebih bijak dalam spending → fokus ke kebutuhan, bukan keinginan
-
Jangan hanya mengandalkan 1 skill → mulai invest ke skill lain
-
Jangan cuma belajar teori → harus ada real project
Karena di kondisi seperti ini,
yang bertahan bukan yang paling pintar.
Tapi yang paling adaptif.
Kalau dari sisi pengusaha:
Ini juga bukan fase yang mudah.
Customer mulai:
- menahan spending
- lebih selektif
- delay decision
Artinya?
Kita juga harus masuk mode survival:
- efisiensi operasional
- fokus ke produk/jasa yang benar-benar deliver value
- jangan terlalu agresif ekspansi
⸻
Dan ini penting.
Kalau kita sebagai individu dan pelaku usaha saja harus survival,
rasanya wajar kalau kita berharap hal yang sama dari pemerintah.
Fokus ke yang paling penting dulu.
Program jangka panjang seperti MBG atau Kopdes?
Mungkin perlu ditahan dulu momentumnya.
Bukan tidak penting.
Tapi timing-nya harus tepat.
Karena 1 tahun ke depan ini krusial.
Bukan soal growth dulu.
Tapi soal stabilitas.
Jadi mungkin ini kesepakatan tidak tertulis:
Kita semua — individu, bisnis, dan pemerintah —
survival dulu.





