Dulu waktu saya kerja di perusahaan software development, hampir semua pekerjaan bentuknya project.
Client datang.
Requirement dibuat.
Timeline disepakati.
Tim kerja beberapa bulan.
Sistem selesai.
Deliver.
Done.
Lalu lanjut ke project berikutnya.
Beberapa kali menjalani siklus ini, saya sempat ngobrol dengan CTO saya waktu itu.
Rasanya ada yang aneh.
Software yang kita bangun terasa seperti barang jadi.
Begitu diserahkan ke client, selesai.
Tidak ada ownership jangka panjang.
Tidak ada rasa “ini produk kita”.
Yang penting: spec terpenuhi
timeline selesai
invoice dibayar.
Belakangan ketika saya bekerja di perusahaan yang punya product sendiri, rasanya baru beda.
Launch bukan akhir.
Justru baru mulai.
User komplain → perbaiki.
User bingung → ubah flow.
User tidak pakai → cari tahu kenapa.
Dan ketika akhirnya jadi founder product, levelnya lebih terasa lagi.
Karena yang dipikirkan bukan lagi sekadar sistem berjalan.
Tapi: apakah ini benar-benar memberi value?
Kalau diringkas, perbedaannya kira-kira begini.
Project Thinking
- Fokus menyelesaikan proyek
- Scope dan timeline tetap
- Setelah delivery → proyek selesai
- Perubahan dianggap gangguan
- Fokus pada output sistem
Product Thinking
- Fokus pada value untuk user
- Pengembangan iteratif
- Setelah launch → terus diperbaiki
- Perubahan adalah bagian dari proses
- Fokus pada outcome & impact
Makanya sekarang kalau ngobrol soal development, saya lebih sering bertanya:
“Kita sedang membangun project…
atau sebenarnya product?”
Kelihatannya mirip.
Tapi cara berpikirnya sangat berbeda.





