Masuk

Membangun Startup2 menit baca

Dulu waktu saya kerja di perusahaan software development, hampir semua pekerjaan bentuk…

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Dulu waktu saya kerja di perusahaan software development, hampir semua pekerjaan bentuk…

Dulu waktu saya kerja di perusahaan software development, hampir semua pekerjaan bentuknya project.

Client datang.
Requirement dibuat.
Timeline disepakati.

Tim kerja beberapa bulan.
Sistem selesai.
Deliver.

Done.

Lalu lanjut ke project berikutnya.

Beberapa kali menjalani siklus ini, saya sempat ngobrol dengan CTO saya waktu itu.

Rasanya ada yang aneh.

Software yang kita bangun terasa seperti barang jadi.
Begitu diserahkan ke client, selesai.

Tidak ada ownership jangka panjang.
Tidak ada rasa “ini produk kita”.

Yang penting: spec terpenuhi
timeline selesai
invoice dibayar.

Belakangan ketika saya bekerja di perusahaan yang punya product sendiri, rasanya baru beda.

Launch bukan akhir.
Justru baru mulai.

User komplain → perbaiki.
User bingung → ubah flow.
User tidak pakai → cari tahu kenapa.

Dan ketika akhirnya jadi founder product, levelnya lebih terasa lagi.

Karena yang dipikirkan bukan lagi sekadar sistem berjalan.

Tapi: apakah ini benar-benar memberi value?

Kalau diringkas, perbedaannya kira-kira begini.

Project Thinking

  • Fokus menyelesaikan proyek
  • Scope dan timeline tetap
  • Setelah delivery → proyek selesai
  • Perubahan dianggap gangguan
  • Fokus pada output sistem

Product Thinking

  • Fokus pada value untuk user
  • Pengembangan iteratif
  • Setelah launch → terus diperbaiki
  • Perubahan adalah bagian dari proses
  • Fokus pada outcome & impact

Makanya sekarang kalau ngobrol soal development, saya lebih sering bertanya:

“Kita sedang membangun project…
atau sebenarnya product?”

Kelihatannya mirip.
Tapi cara berpikirnya sangat berbeda.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Membangun Startup

OpenAI, LLM Wrapper, dan Era Startup Profit-First
Membangun Startup

1 Apr2 mnt

OpenAI, LLM Wrapper, dan Era Startup Profit-First

OpenAI Buktiin: Bikin LLM Wrapper Bisa Dapat Rp 660 Triliun! Gila sih… Di tengah tech winter, unicorn madness, dan lesunya investasi startup, OpenAI justru cetak sejarah: Fundraising senilai 660 Triliun Rupiah Dengan…

Ketika Direksi BUMN Dipenjara Bukan Karena Korupsi — Tapi Karena Keputusan Bisnis
Membangun Startup

30 Nov2 mnt

Ketika Direksi BUMN Dipenjara Bukan Karena Korupsi — Tapi Karena Keputusan Bisnis

Ketika Direksi BUMN Dipenjara Bukan Karena Korupsi — Tapi Karena Keputusan Bisnis Kasus akuisisi PT JN oleh PT ASDP minggu lalu jadi drama nasional. Bukan karena nilainya kecil, bukan juga karena pelakunya tak dikenal…

Mindset B2B untuk IT Vendor di Era Tech Winter
Membangun Startup

1 Mar2 mnt

Mindset B2B untuk IT Vendor di Era Tech Winter

B2C vs B2B: Mindset Baru untuk IT Vendor & Consultant di Era Tech Winter Dulu saya pernah berada di jalur B2C startup. Punya ide bagus, ambisi besar, dan percaya diri bahwa kalau user growth tinggi, semuanya akan…

Build With Angga
Membangun Startup

10 Jan2 mnt

Profit First dan Bootstrap ala BuildWithAngga

Berbincang dengan Founder Hebat: Belajar dari BuildWithAngga Minggu ini, saya berkesempatan ngobrol dengan Angga Setiawan , founder BuildWithAngga (BWA). Sebuah platform yang luar biasa terkenal, terutama di kalangan…

Kesan Baik dan Networking yang Kembali Berbuah
Membangun Startup

22 Okt2 mnt

Kesan Baik dan Networking yang Kembali Berbuah

Kesan yang Baik, Jauh Lebih Panjang Umurnya dari Proyek yang Gagal Sekitar enam tahun lalu, waktu saya lagi membangun startup health-tech, saya sering berinteraksi dengan seorang CTO dari startup lain — Mas Rendy…

← Semua tulisan