Kesan yang Baik, Jauh Lebih Panjang Umurnya dari Proyek yang Gagal
Sekitar enam tahun lalu, waktu saya lagi membangun startup health-tech, saya sering berinteraksi dengan seorang CTO dari startup lain — Mas Rendy Alfuadi.
Waktu itu beliau pegang platform untuk tenaga kesehatan homecare.
Kita sering tukar pikiran, saling support, bahkan sempat bahas peluang kolaborasi.
Tapi seperti banyak startup health-tech lain di masa itu, proyek kami sama-sama akhirnya harus tutup buku.
Namun ada satu hal yang nggak ikut “gugur”:
kesan baik.
Mas Rendy Alfuadi selalu datang dengan sikap suportif, profesional, dan ringan diajak diskusi.
Dan entah kenapa, hal-hal seperti itu selalu tertanam lama di kepala.
Sekitar dua bulan lalu, saya hadir di sebuah event investor — ada Antler, Monk’s Hill, dan beberapa lainnya.
Tanpa sengaja, saya ketemu lagi dengan Mas Rendy.
Kita ngobrol panjang, nostalgia, dan ternyata sekarang beliau sudah membangun startup baru bernama Healthpro.id — semacam marketplace tenaga kesehatan untuk berbagai kebutuhan.
Lebih matang, lebih siap, dan… ternyata sudah di-backup oleh Antler sejak dua tahun lalu.
Keren banget.
2 bulan kemudian, saya kebetulan lagi butuh partner untuk proyek yang berhubungan dengan tenaga kesehatan.
Dan tanpa mikir panjang, nama yang pertama muncul di kepala saya: Health-Pro.
Saya kontak langsung — dan deal.
Dari situ saya makin yakin, ada dua pelajaran penting banget buat kita semua:
1️⃣ Jaga kesan baik
Jangan bikin orang lain susah, apalagi ninggalin masalah.
Kadang bukan hasil kerja kita yang diingat — tapi cara kita memperlakukan orang.
2️⃣ Networking itu investasi jangka panjang
Mungkin sekarang belum butuh, tapi percayalah… suatu hari, akan ada momen di mana koneksi itu kembali menemukan jalannya.
Kita nggak pernah tahu kapan jalan kita akan berpotongan lagi dengan orang lain.
Tapi yang pasti, kalau kamu menanam kesan baik, hasilnya akan datang — bahkan bertahun-tahun kemudian.
Selalu terbuka buat diskusi.





