Tempe kita, modal bangsa lain.
Dari negeri nun jauh di sana—tepatnya Inggris—sebuah startup bernama Tiba Tempeh baru saja dapat pendanaan Rp29 Miliar.
Bukan bikin AI, bukan jualan crypto.
Mereka jualan tempe.
Ya, tempe, makanan yang sudah jadi bagian hidup kita sejak kecil.
Lewat kemasan yang rapi, branding yang kuat, dan inovasi resep yang cocok di lidah orang Eropa, mereka berhasil masuk supermarket besar seperti Sainsbury’s dan Morrisons.
Bahkan ekspansi ke Spanyol dan Perancis.
Pertanyaannya: kenapa bukan kita yang bikin?
Kita tahu.
Cerita soal startup bidang pertanian, perikanan, dan pangan lokal di Indonesia memang banyak yang berakhir pilu.
Funding seret. Infrastruktur ruwet.
Dan kadang terlalu banyak jargon digitalisasi yang nggak relevan sama realita di lapangan.
Tapi… justru karena itu lah peluangnya besar.
Masyarakat tetap butuh makan.
Sumber daya alam kita kaya.
Dan distribusi pangan belum efisien.
Yang kurang?
Inovasi + branding + kemauan belajar.
Kalau kamu anak daerah yang punya ide di sektor ini—baik di pertanian, perikanan, olahan makanan pokok—jangan nyerah.
Selama ada problem besar yang bisa diselesaikan dan kamu bisa bawa pendekatan baru, ruang untuk berkembang itu masih ada.
Kita bisa belajar dari Tiba Tempeh, bukan untuk menyesali kenapa mereka duluan, tapi untuk mengejar dan melampaui.
Kalau kamu lagi mulai atau bahkan sudah punya bisnis seperti ini, mention aja di komentar.
Siapa tahu bisa kolaborasi, atau ada investor yang ngintip.
Kalau pengen ngobrol dan lihat potensi ide kamu, yuk diskusi langsung bareng saya.
🟡 Mau bangun personal branding di LinkedIn?
Program praktis bareng saya — bukan teori, tapi langsung terlihat.
→ s.id/branding-linkedin
🟡 Punya ide bisnis & ingin kolaborasi atau cari pendanaan?
Ngobrol langsung aja. **Saya buka ruang buat diskusi**.
🟡 Gabung Tech Voice Indonesia
Tempat anak tech & penggerak digital dari berbagai daerah membangun ekosistem bareng.





