Gagal Bangun Startup Preventif, Kami Coba Pivot Jualan Vitamin.
Ternyata Boncos Juga.
Setelah 1 tahun mengupayakan Jovee—startup preventif kesehatan berbasis rekomendasi personal—dan tidak mendapat traction, kami sepakat untuk freeze produk.
Tapi saya belum menyerah.
Saya inisiasi pivot:
Kalau edukasi hidup sehat masih terlalu dini,
gimana kalau kita bantu akses produknya dulu?
Kami rebranding Jovee jadi toko kesehatan digital.
Masuk ke e-commerce besar.
Dan terkoneksi dengan berbagai brand besar vitamin & suplemen:
Blackmores, Redoxon, Wellness, hingga Sidomuncul.
Dalam waktu singkat:
- Jadi trusted seller
- Penjualan ribuan produk per bulan
- Operasional pindah dari ruko ke gudang besar
Secara volume kami tumbuh cepat.
Tapi secara profit? Boncos.
Apa yang terjadi?
Kami mulai sadar, kami masuk ke ranah perdagangan komoditas:
Produknya ada di mana-mana, pembeli hanya cari harga termurah.
Dan karena skala kami besar, kami dikenakan status PKP (Perusahaan Kena Pajak)
→ otomatis harga naik 10%
→ makin susah bersaing dengan seller kecil non-PKP
→ margin terkikis habis
Sementara biaya marketing digital makin mahal.
Sekali main di traffic & gimmick campaign…
Sulit banget buat balik ke jalur organik.
Dari fase pivot ini, saya belajar banyak.
Pelajaran terbesar saya:
1. Skalabilitas ≠ profitabilitas
Traffic tinggi belum tentu sehat kalau margin tipis & banyak bocor
2. Komoditas itu brutal
Tanpa USP yang kuat, kita cuma ikut balapan harga
3. Pajak itu game changer
Selisih 10% bisa jadi penentu kalah-menang di pasar terbuka
4. Sustainability > Speed
Agresif bisa mematikan napas kalau cashflow tidak sehat
Akhir cerita dari inovasi preventif berujung pivoting ke bisnis praktis.
Dan ternyata… ya begitulah.
Jalan panjang, penuh pelajaran. Tapi tetap berharga.
Kalau kamu sedang ada di fase pivot,
atau sedang ingin bangun sesuatu tapi masih mencari jalan…
Yuk ngobrol.
Mungkin pengalaman gagal saya bisa bantu kamu gak jatuh di lubang yang sama.





