Rp550 Miliar untuk Aplikasi. Saya Bisa Bangun 10 Startup dengan Itu.
Saya sudah 20+ tahun di industri ini. Saya pernah build sistem dari nol, pernah jadi CTO, pernah ngobrol langsung dengan vendor-vendor terbaik yang pernah mengerjakan proyek sekelas Gojek dan fintech unicorn. Dan satu hal yang saya tahu pasti: angka itu tidak masuk akal.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengalokasikan Rp550 miliar untuk pengembangan SIPGN — Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional. Ditambah Rp199 miliar untuk managed service perangkat IoT. Total yang sudah cair: Rp750 miliar.
Untuk konteks, ada vendor spesialis sistem modern berpengalaman yang pernah mengerjakan proyek sekelas Gojek — biayanya tidak sampai Rp10 miliar untuk build-nya. Infrastruktur operasional setahun, dengan asumsi traffic semasif unicorn? Juga di angka yang sama. Total dalam satu tahun, tidak sampai Rp100 miliar — dan itu sudah sangat over-spec untuk sistem yang trafficnya jauh di bawah Gojek.
SIPGN bukan platform e-commerce nasional.
Bukan super-app.
Ini sistem pemantauan distribusi gizi.
Saya yakin trafficnya tidak akan mendekati Tokopedia, apalagi Gojek.
Lalu ke mana selisihnya?
Ini yang bikin saya curiga ada yang tidak beres: kalau yang dimaksud "pengembangan aplikasi" ternyata mencakup pengadaan komputer, laptop, printer, dan perangkat keras lain — itu bukan software development, itu pengadaan barang.
Dan kalau Rp199 miliar untuk IoT, pertanyaannya sederhana: berapa titik sensor yang dipasang, dan siapa yang bisa audit harga satuannya?
Pola ini bukan pertama kali. Kita sudah pernah lihat 400+ aplikasi di Kemenkes yang vendor-nya sekarang sudah bubar.
Kita sudah lihat Coretax DJP yang dikomentari Pak Purbaya sendiri dengan kata "seperti dibikin anak SMA."
Kita sudah lihat anggaran IT pemerintah yang tidak pernah punya benchmark — karena tidak ada yang bisa audit harga wajarnya.
Ini bukan soal BGN saja. Ini soal bagaimana kita membangun sistem digital negara.
Kalau mau serius:
-
bikin tender terbuka
-
undang vendor yang bisa buktikan portofolio
-
tentukan acceptance criteria yang terukur sebelum bayar
-
kita lihat seberapa make sense nilai yang ditawarkan
-
bukan setelah viral.
Miris. Dan kita semua tahu ini akan terulang lagi.





