Dulu masuk PTN itu sederhana.
Negara membangun kampus.
Negara memberi subsidi.
Mahasiswa bersaing menjadi yang terbaik.
Yang lolos ya kuliah.
Selesai.
Sekarang...
Masuk PTN rasanya sudah seperti masuk marketplace.
Ada SNBP.
Ada SNBT.
Ada Mandiri.
Ada berbagai jalur lain.
Pilihan semakin banyak.
Kuota semakin besar.
Tapi ada satu hal yang ikut berubah :
Perguruan tinggi negeri pelan-pelan ikut berpikir seperti sebuah bisnis.
Dulu kampus berlomba mencari mahasiswa terbaik.
Sekarang kampus juga harus memikirkan pemasukan.
Kalau tidak...
Kenapa jalur mandiri porsinya semakin besar?
Kenapa semakin banyak mahasiswa yang akhirnya mundur setelah dinyatakan lolos?
Bukan karena tidak pintar.
Tapi karena tidak sanggup membayar.
Data tahun ini menunjukkan memang tidak semua narasi yang beredar benar - angka 113 ribu peserta yang tidak daftar ulang merupakan akumulasi lintas jalur dan tidak seluruhnya mencerminkan mahasiswa yang batal kuliah.
Namun tetap ada puluhan ribu calon mahasiswa yang melepas kursinya, dan faktor ekonomi menjadi salah satu persoalan penting yang harus dijawab.
Buat saya, ini bukan sekadar cerita tentang UKT.
Ini perubahan filosofi.
Perguruan tinggi negeri dulu dibangun agar anak-anak terbaik bisa kuliah meski lahir dari keluarga biasa.
Sekarang...
Jangan sampai anak-anak terbaik justru gagal kuliah karena orang tuanya tidak mampu membayar.
Kalau itu yang terjadi...
Mungkin yang berubah bukan hanya sistem penerimaannya.
Tapi juga makna "negeri" dalam Perguruan Tinggi Negeri.





