Masuk

Membangun Startup2 menit baca

Dulu masuk PTN itu sederhana.

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Dulu masuk PTN itu sederhana.

Dulu masuk PTN itu sederhana.
Negara membangun kampus.
Negara memberi subsidi.

Mahasiswa bersaing menjadi yang terbaik.

Yang lolos ya kuliah.
Selesai.

Sekarang...
Masuk PTN rasanya sudah seperti masuk marketplace.
Ada SNBP.
Ada SNBT.
Ada Mandiri.
Ada berbagai jalur lain.

Pilihan semakin banyak.
Kuota semakin besar.

Tapi ada satu hal yang ikut berubah :
Perguruan tinggi negeri pelan-pelan ikut berpikir seperti sebuah bisnis.

Dulu kampus berlomba mencari mahasiswa terbaik.

Sekarang kampus juga harus memikirkan pemasukan.

Kalau tidak...
Kenapa jalur mandiri porsinya semakin besar?

Kenapa semakin banyak mahasiswa yang akhirnya mundur setelah dinyatakan lolos?

Bukan karena tidak pintar.

Tapi karena tidak sanggup membayar.

Data tahun ini menunjukkan memang tidak semua narasi yang beredar benar - angka 113 ribu peserta yang tidak daftar ulang merupakan akumulasi lintas jalur dan tidak seluruhnya mencerminkan mahasiswa yang batal kuliah.

Namun tetap ada puluhan ribu calon mahasiswa yang melepas kursinya, dan faktor ekonomi menjadi salah satu persoalan penting yang harus dijawab.

Buat saya, ini bukan sekadar cerita tentang UKT.

Ini perubahan filosofi.

Perguruan tinggi negeri dulu dibangun agar anak-anak terbaik bisa kuliah meski lahir dari keluarga biasa.

Sekarang...

Jangan sampai anak-anak terbaik justru gagal kuliah karena orang tuanya tidak mampu membayar.

Kalau itu yang terjadi...

Mungkin yang berubah bukan hanya sistem penerimaannya.

Tapi juga makna "negeri" dalam Perguruan Tinggi Negeri.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Membangun Startup

Saya sebenarnya berharap tulisan saya setahun lalu salah.
Membangun Startup

30 Jun2 mnt

Saya sebenarnya berharap tulisan saya setahun lalu salah.

Saya sebenarnya berharap tulisan saya setahun lalu salah. Setahun yang lalu saya pernah menulis satu istilah yang saya sebut: "Rorojonggrang Policy." Sebuah kebijakan yang dipaksa tumbuh terlalu cepat. Targetnya besar…

Dulu saya pernah nulis betapa kagumnya saya naik taksi hijau dari Vietnam itu.
Membangun Startup

29 Apr2 mnt

Dulu saya pernah nulis betapa kagumnya saya naik taksi hijau dari Vietnam itu.

Dulu saya pernah nulis betapa kagumnya saya naik taksi hijau dari Vietnam itu. Sunyi. Adem. Nyaman banget. Saya sampai terdiam karena genuinely terkesan. Tapi kemarin malam, saya baca berita soal mereka lagi. Dan saya…

Dulu waktu saya kerja di perusahaan software development, hampir semua pekerjaan bentuk…
Membangun Startup

5 Mar2 mnt

Dulu waktu saya kerja di perusahaan software development, hampir semua pekerjaan bentuk…

Dulu waktu saya kerja di perusahaan software development, hampir semua pekerjaan bentuknya project. Client datang. Requirement dibuat. Timeline disepakati. Tim kerja beberapa bulan. Sistem selesai. Deliver. Done. Lalu…

Jangan Tunda Accounting: Biaya Mahal di Belakang
Membangun Startup

14 Jul2 mnt

Jangan Tunda Accounting: Biaya Mahal di Belakang

Lupa Belakang Kebiasaan anak tech yang bisa berujung biaya mahal di belakang. Ngaku deh, ini sering kejadian. Waktu dan tenaga 99% habis buat problem solving: “Gimana caranya produk kita bisa dipakai orang?” “Gimana…

Ketika Digitalisasi Jadi Pasal
Membangun Startup

24 Apr2 mnt

Ketika Digitalisasi Jadi Pasal

Ketika Digitalisasi Jadi Pasal Chromebook itu bukan cuma soal laptop. Tapi tentang bagaimana negara ini menghukum visi yang salah dieksekusi. Hari ini Ibam — Ibrahim Arief, eks VP Bukalapak, konsultan teknologi…

← Semua tulisan