Lupa Belakang
Kebiasaan anak tech yang bisa berujung biaya mahal di belakang.
Ngaku deh, ini sering kejadian.
Waktu dan tenaga 99% habis buat problem solving:
“Gimana caranya produk kita bisa dipakai orang?”
“Gimana caranya biar user mau beli?”
Dan itu memang valid.
Tapi banyak yang lupa:
Sistem belakang — terutama accounting — gak pernah dipikirin sejak awal.
Karena dianggap “nanti aja”.
Atau lebih parah: “Gampang, pakai Excel juga bisa.”
Yang saya lihat, efeknya bisa serius:
- Transaksi gak bisa dicocokkan dengan cash flow.
- Gak punya sistem yang siap audit.
- Bingung waktu mau laporan pajak.
- Data berantakan: dari database, ke Excel, ke dashboard.
Dan yang paling nyesek: ketahuan ada fraud, tapi udah kejadian bertahun-tahun.
Saya pernah di dua sisi.
Pernah bangun sistem dari nol sambil rancang accounting-nya juga.
Tapi juga pernah ngalamin kacau karena sistem keuangannya dibikin belakangan.
Hasilnya? Drama vendor gonta-ganti. Laporan keuangan telat.
Investor batal masuk.
Masalah utamanya?
Anak tech sering gak ngerti finance.
Padahal kalau dari awal udah integrasi sistem keuangan, semuanya bisa lebih lancar.
Makanya penting banget, sejak awal:
1. Bangun sistem pencatatan transaksi yang clean
2. Pilih software accounting yang bisa diintegrasikan
3. Ajak orang finance dari awal, jangan cuma developer doang
Makanya, buat yang baru mulai:
Pilih software akuntansi yang bisa integrasi ke sistem kamu.
Gak perlu langsung yang mahal, yang penting cocok.
Rekomendasi saya untuk early stage:
- Odoo
- Zoho
- Jurnal By Mekari
- Accurate Indonesia
Buat para founder, tech lead, atau business owner yang lagi bangun sistem:
Jangan lupa urus “belakang” ya.
Daripada bayar mahal nanti.
Kalau mau ngobrol soal ini lebih lanjut, bisa DM atau ke sini:





