Seminggu terakhir linimasa tech Indonesia terasa muram.
Harga saham yang terus tertekan.
Investor yang mulai mempertanyakan arah.
Diskusi tentang runtuhnya optimisme terhadap ekosistem startup Indonesia.
Awalnya saya mengira ini hanya obrolan media teknologi dan pelaku startup saja.
Sampai kemudian saya membaca satu postingan dari Richard Branson.
Sosok yang bukan hanya membangun Virgin Group, tetapi juga salah satu figur yang selama puluhan tahun menjadi referensi investor dan entrepreneur global.
Beliau menulis:
"Nadiem Makarim is one of Indonesia's most successful entrepreneurs, who traded his business career for a position in government to become a champion of education reform. He should be celebrated for what he achieved, not prosecuted on trumped-up charges that seem politically motivated."
Saya berhenti sejenak.
Karena terlepas dari posisi politik, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, ada satu hal yang menurut saya perlu kita renungkan sebagai bangsa.
Dari mata seorang entrepreneur global, yang mereka lihat bukan sekadar seorang mantan menteri.
Yang mereka lihat adalah seorang anak muda Indonesia yang berani bermimpi besar.
Membangun perusahaan yang mengubah perilaku jutaan orang.
Menciptakan lapangan kerja bagi jutaan mitra.
Menghidupkan jutaan UMKM.
Membawa nama Indonesia menjadi salah satu cerita sukses teknologi yang diperhatikan dunia.
Dan ketika dunia melihat itu sebagai sesuatu yang patut diapresiasi, sementara kita sibuk saling menjatuhkan, saya bertanya-tanya:
Pesan apa yang sebenarnya sedang kita kirim kepada generasi berikutnya?
Kepada anak-anak muda yang hari ini sedang membangun startup dari kost2an mereka.
Kepada engineer yang sedang begadang membuat produk.
Kepada founder yang sedang berjuang mencari pelanggan pertama.
Kepada mereka yang punya mimpi membuat sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Apakah mereka akan melihat Indonesia sebagai tempat yang mendorong keberanian untuk membangun?
Atau justru tempat yang membuat orang berpikir dua kali sebelum bermimpi terlalu besar?
Saya tidak tahu jawabannya.
Tapi saya tahu satu hal.
Bangsa yang besar bukan hanya mampu melahirkan inovator.
Bangsa yang besar juga mampu menghargai mereka.
Karena kalau setiap orang yang berani bermimpi besar akhirnya menjadi contoh yang menakutkan, maka yang hilang bukan satu orang.
Yang hilang adalah keberanian generasi berikutnya untuk mencoba.
Dan itu jauh lebih mahal daripada valuasi perusahaan mana pun.
Semoga kita tidak sedang mengubur mimpi anak-anak bangsa kita sendiri.





