Ketika IT Masih Merasa “Cukup”, Pengguna Sudah Pergi Duluan.
Saya ambil contoh yang sangat sederhana.
Aplikasi yang hampir setiap minggu saya buka: myXL.
Saya coba simple experiment.
Dari buka aplikasi sampai siap dipakai.
⏱ 13 detik.
Sebagai pembanding:
- Tokopedia: ±4 detik
- Instagram / TikTok: <2 detik
Hampir 3x bahkan 5x lebih lambat.
Buat orang awam yang tiap hari pakai sosmed?
Ini sudah kelewat lama.
Dan pelan-pelan, tanpa kita sadari, aplikasinya ditinggalkan.
Saya jadi ingat satu cerita klasik soal Steve Jobs.
Saat Mac pertama kali didemo, waktu booting-nya sudah dianggap cepat.
Tapi Jobs tidak puas.
Dia tantang engineer-nya:
“Kalau kita bisa menghemat 10 detik setiap kali orang menyalakan Mac,
dan ada 5 juta pengguna,
itu berarti 50 juta detik kehidupan manusia dihemat setiap hari.”
Buat Jobs, ini bukan soal teknis.
Ini soal mindset.
Dan mindset itu terbukti.
Sampai hari ini, hampir semua produk Apple harus boot dalam hitungan detik.
Balik ke aplikasi telco seperti myXL.
Masalahnya bukan karena engineer-nya tidak pintar.
Bukan karena teknologinya tidak ada.
Masalahnya lebih mendasar:
aplikasi ini lahir dari mindset IT as support, bukan IT as product.
- Fokus ke fungsi internal
- Governance kuat
- Experience pengguna nomor sekian
Agile? Dipakai.
Scrum? Jalan.
Stand-up meeting? Ada.
Tapi sering kali:
ritualnya jalan, spirit-nya nggak.
Dan hasil akhirnya bisa kita rasakan sendiri.
Hari ini, standar pengguna sudah dibentuk oleh:
Instagram.
TikTok.
Marketplace.
Kalau aplikasi publik masih butuh 10–15 detik hanya untuk “siap dipakai”, itu bukan masalah teknis lagi.
Itu masalah cara berpikir.
Kalau korporasi dan institusi besar tidak serius memindahkan IT
dari sekadar support menjadi product,
maka gap ini akan makin lebar—apalagi dengan Gen Z yang makin dominan.
Kalau mau ngobrol lebih dalam soal ini:
🟡 Atau join Tech Voice Indonesia
Tempat ngobrol praktis soal tech, product, dan mindset transformasi yang beneran kejadian





