“Close-Loop” di Rumah Sakit: Rapi, tapi Mahal & Menyesatkan.
Dulu saya sempat kagum, kenapa proses berobat rawat jalan di rumah sakit bisa terasa seamless.
Dari daftar → ke poli → ke lab → ambil obat → bayar.
Semua terlihat tertata.
Tapi makin lama saya terjun di dunia kesehatan, saya baru paham.
Yang disebut “rapi” ini sebenarnya sistem tertutup.
Disebut “close-loop”.
Semua serba internal. Data pasien tidak bisa diakses pihak luar, bahkan oleh pasien itu sendiri.
Catatan kesehatan?
Ga pernah kita dapet. Karena dianggap milik rumah sakit.
Akibatnya?
- Harga jadi lebih mahal, karena ga ada opsi lain.
- Kalau pindah rumah sakit, periksa ulang dari awal.
- Ga ada kontrol & transparansi dari sisi pasien.
Ini bukan masalah teknis.
Ini adalah warisan sistem — yang dulu disahkan lewat Permenkes 269/2008.
Untungnya, tahun 2022 dicabut.
Diganti Permenkes 24/2022: pasien berhak akses catatan kesehatannya, faskes wajib kirim data ke pemerintah.
Tapi kenyataannya?
Sudah 3 tahun…
Progress-nya belum banyak terlihat.
Kenapa?
Karena mindset pelaku bisnis layanan kesehatan (Fasyankes) masih belum mau terbuka.
Buat mereka:
- Pasien = aset tetap.
- Data = keunggulan kompetitif.
- Sistem terbuka = ancaman pendapatan.
Padahal justru sebaliknya.
Sistem terbuka = efisiensi.
Sistem terbuka = integrasi.
Sistem terbuka = kepercayaan.
Saya percaya: kalau pasien makin paham haknya, sistem kesehatan kita bisa lebih adil.
Tapi kalau kita terus diam dan anggap “ya beginilah rumah sakit,”
ya selamanya kita tetap jadi objek bisnis.
Punya pengalaman serupa? Pernah merasa terjebak dalam sistem tertutup seperti ini? Yuk diskusi.
📍Program:
🟡 Mau mulai bangun personal branding di LinkedIn?
→ s.id/branding-linkedin
🟡 Punya ide kolaborasi di sektor digitalisasi & layanan publik?
🟡 Gabung komunitas profesional teknologi →





