Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Rumah Sakit Close-Loop: Rapi, Mahal, Tak Transparan

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Rumah Sakit Close-Loop: Rapi, Mahal, Tak Transparan

“Close-Loop” di Rumah Sakit: Rapi, tapi Mahal & Menyesatkan.
Dulu saya sempat kagum, kenapa proses berobat rawat jalan di rumah sakit bisa terasa seamless.

Dari daftar → ke poli → ke lab → ambil obat → bayar.
Semua terlihat tertata.

Tapi makin lama saya terjun di dunia kesehatan, saya baru paham.
Yang disebut “rapi” ini sebenarnya sistem tertutup.

Disebut “close-loop”.
Semua serba internal. Data pasien tidak bisa diakses pihak luar, bahkan oleh pasien itu sendiri.
Catatan kesehatan?
Ga pernah kita dapet. Karena dianggap milik rumah sakit.

Akibatnya?

  • Harga jadi lebih mahal, karena ga ada opsi lain.
  • Kalau pindah rumah sakit, periksa ulang dari awal.
  • Ga ada kontrol & transparansi dari sisi pasien.

Ini bukan masalah teknis.
Ini adalah warisan sistem — yang dulu disahkan lewat Permenkes 269/2008.
Untungnya, tahun 2022 dicabut.
Diganti Permenkes 24/2022: pasien berhak akses catatan kesehatannya, faskes wajib kirim data ke pemerintah.

Tapi kenyataannya?
Sudah 3 tahun…
Progress-nya belum banyak terlihat.

Kenapa?
Karena mindset pelaku bisnis layanan kesehatan (Fasyankes) masih belum mau terbuka.

Buat mereka:

  • Pasien = aset tetap.
  • Data = keunggulan kompetitif.
  • Sistem terbuka = ancaman pendapatan.

Padahal justru sebaliknya.
Sistem terbuka = efisiensi.
Sistem terbuka = integrasi.
Sistem terbuka = kepercayaan.

Saya percaya: kalau pasien makin paham haknya, sistem kesehatan kita bisa lebih adil.
Tapi kalau kita terus diam dan anggap “ya beginilah rumah sakit,”
ya selamanya kita tetap jadi objek bisnis.

Punya pengalaman serupa? Pernah merasa terjebak dalam sistem tertutup seperti ini? Yuk diskusi.

📍Program:  
🟡 Mau mulai bangun personal branding di LinkedIn?  
→ s.id/branding-linkedin

🟡 Punya ide kolaborasi di sektor digitalisasi & layanan publik?

🟡 Gabung komunitas profesional teknologi →

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

BPJS Berbayar, Tapi Pasien Tetap Dipersulit
Digitalisasi Kesehatan

9 Mei2 mnt

BPJS Berbayar, Tapi Pasien Tetap Dipersulit

BPJS Bukan Gratis, Tapi Kok Rasanya Diperlakukan Seperti Gratisan? Kalau denger kata BPJS Kesehatan, apa yang langsung terlintas di kepala? “Antrian.” “Ribet.” Dan sayangnya… ya memang begitu kenyataannya. Saya pernah…

Dari “PeduliLindungi” ke “SatuSehat”: Saatnya Digitalisasi Kesehatan Punya Nahkoda yang…
Digitalisasi Kesehatan

8 Nov2 mnt

Dari “PeduliLindungi” ke “SatuSehat”: Saatnya Digitalisasi Kesehatan Punya Nahkoda yang…

Dari “PeduliLindungi” ke “SatuSehat”: Saatnya Digitalisasi Kesehatan Punya Nahkoda yang Tepat. Coba kita tarik mundur 4–5 tahun lalu, saat dunia seakan berhenti berputar karena COVID-19. Di masa itu, kesehatan publik…

Digitalisasi Rumah Sakit
Digitalisasi Kesehatan

10 Feb2 mnt

Digitalisasi RS: Pasien Sehat atau Tambah Pusing?

Digitalisasi Rumah Sakit = Pasien Lebih Sehat atau Lebih Pusing? Pengalaman ke Rumah Sakit: Capek Sebelum Berobat! Siapa yang kalau dengar kata "rumah sakit" langsung kebayang antrian panjang, sistem berantakan, dan…

Ketika Sistem Kesehatan Terlalu IT-Centric
Digitalisasi Kesehatan

1 Jul2 mnt

Ketika Sistem Kesehatan Terlalu IT-Centric

Pak Budi Gunadi Bilang: “Sistem Kesehatan Kita Terlalu IT Banget.” Dan Jujur, Saya Setuju. Beberapa waktu lalu saya hadir di event CIO Healthcare. Isinya orang-orang tech: CIO rumah sakit, vendor healthtech, engineer…

SATUSEHAT dan Kekacauan Sistem di Puskesmas
Digitalisasi Kesehatan

16 Mei2 mnt

SATUSEHAT dan Kekacauan Sistem di Puskesmas

Digitalisasi Puskesmas: Kalau Semua Jalan Sendiri, Nakes & Pasien yang Kelelep. Waktu COVID-19 menghantam, kita sadar betapa lemahnya data kita. Puskesmas — garda terdepan kesehatan — justru minim sistem informasi yang…

← Semua tulisan