Dari Role Model ke Tersangka
Nama Nadiem Anwar Makarim (NAM) pernah jadi simbol harapan.
Founder sukses → Menteri Pendidikan.
Kita sempat percaya, “akhirnya ada sosok muda yang ngerti tech, ngerti digital, ngerti masa depan.”
Tapi hari ini, berita itu pecah:
NAM resmi jadi tersangka kasus korupsi digitalisasi senilai Rp1,9 triliun.
Kasusnya
Pengadaan laptop untuk sekolah/guru/murid.
Produk yang dipilih: Google Chromebook.
Padahal, menurut kajian sebelum NAM menjabat, Chromebook tidak lulus uji untuk dipakai di sekolah 3T (terluar, tertinggal, terdalam).
Alasannya jelas: OS berbasis web & cloud → mustahil optimal di daerah tanpa internet stabil.
Tapi setelah NAM masuk, kebijakan berubah. Google diloloskan.
Dan di sinilah Kejaksaan mencium ada “persengkokolan” antara NAM, staf ahli, dan pihak Google.
Reaksi Publik
Waktu kasus ini pertama kali mencuat, seorang teman DM saya:
“Bro, masa sih? Gue nggak percaya. Selevel Nadiem gitu lho.”
Saya jawab singkat:
“Kita lihat saja, nanti Kejaksaan mendalami.”
Dan hari ini, finalnya keluar. NAM tersangka.
Sebagai orang tech, saya cuma bisa garuk kepala.
Kita semua tahu, Chromebook jelas-jelas nggak cocok buat 3T.
NAM juga pasti paham.
Tapi kenapa tetap dipilih?
Apapun jawabannya, yang muncul hanya satu rasa:
bau tak sedap.
Dari Role Model ke Smelly Deal
Sosok yang dulu kita idolakan di panggung startup & tech, akhirnya runtuh di panggung politik.
Sedih? Iya.
Tapi ini juga jadi wake-up call:
Kalau pondasi negara kita seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur saja dikorupsi…
tinggal tunggu waktu sebelum semuanya runtuh.
Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan seorang teman. Dia bilang:
“Kenapa Indonesia makin ke sini makin nggak relevan? Apakah kita menuju negara gagal?”
Saya nggak bisa langsung jawab.
Tapi hari-hari seperti ini bikin pertanyaan itu makin terasa nyata.
Apakah kita masih bisa berharap pada “role model” di negeri ini?





