Ketika Efisiensi Bukan Lagi Tren Startup—Tapi Gelombang Nasional
Awal 2025 kita masih berpikir badai PHK hanya terjadi di startup.
Ternyata salah besar.
Dalam 12 bulan terakhir, yang tumbang bukan hanya perusahaan teknologi—
tapi pabrik besar, industri media, hingga perusahaan retail dan jasa.
Bahkan perusahaan yang setara “ikon industri” ikut merampingkan tenaga kerja.
Kalau dilihat dari data laporan media, PHK terbanyak justru bukan di startup, tapi pabrikan seperti Sritex yang memotong lebih dari 11.000 karyawan, diikuti Yamaha yang menutup dua pabrik dan merumahkan lebih dari 1.100 buruh .
Di sisi lain, startup seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Blibli, hingga eFishery juga melakukan pengurangan ratusan orang.
Belum lagi stasiun TV nasional dan media digital yang ikut memotong 150–200 orang tiap entitas.
Dan satu pola muncul jelas:
Ini bukan efisiensi bisnis—ini penanda ekonomi sedang melambat.
Kita sebenarnya sudah dapat sinyal sejak awal tahun, ketika mahasiswa mengusung narasi:
“Indonesia Gelap.”
Saat itu banyak yang menganggap berlebihan.
Nyatanya bubble-nya pecah di Agustus, dan pemerintah akhirnya merombak menteri-menteri krusial.
1. Di pasar modal:
investor asing keluar pelan-pelan.
2. Di ranah tech:
investor global hold cash.
3. Di level konsumen:
nilai transaksi turun, pengeluaran rumah tangga mulai disasak.
4. Di sisi negara:
penerimaan pajak ikut seret.
Dan ketika revenue negara turun, roda ekonomi ikut pelan.
Efisiensi—yang dulu kita kenal hanya sebagai “cara memperpanjang runway startup”—
hari ini sudah jadi bahasa utama pabrik, media, institusi publik, bahkan perbankan.
Saya tidak menulis ini untuk membuat semua orang takut.
Justru kebalikannya—
ketika kita tahu kenyataan, kita bisa bergerak secara adaptif.
🟡 Join Tech Voice Indonesia
Untuk membahas masa depan ekonomi digital Indonesia secara jernih & strategis





