Kalau kamu adalah engineer terbaik di Indonesia, mengorbankan karier global untuk bantu digitalisasi pendidikan negeri sendiri, dan terbukti tidak menerima sepeser pun dari proyek yang bermasalah —
Apa yang kamu dapat?
Tuntutan 15 tahun penjara. Dijemput dari rumah saat sedang main sama anaknya.
Itulah yang terjadi pada Ibrahim Arief — Ibam — konsultan teknologi GovTech Edu, salah satu engineer paling kredibel yang pernah kita punya.
Selama lebih dari empat bulan persidangan, puluhan saksi dihadirkan. Tidak ada satu bukti pun aliran dana ke Ibam. Bahkan saksi eksekutif Google yang hadir langsung di persidangan berkata: tim Ibam justru selalu men-challenge rekomendasi Chromebook, bukan mendorongnya.
Tapi ia tetap dituntut 15 tahun — lebih dari dua kali lipat tuntutan terhadap pejabat yang punya tanda tangan, punya anggaran, dan punya kewenangan pengadaan yang sesungguhnya.
Ini yang saya sebut Knowledge Worker Trap. Dan Ibam bukan yang pertama jatuh ke dalamnya.
Yang bikin saya lebih resah adalah sinyal jangka panjangnya.
Digitalisasi Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada ASN yang — seperti yang sering saya dengar dari orang dalam:
- mindset-nya masih vendor-an
- yang penting proyek selesai
- ada tukin
- ada promosi
Kita butuh orang-orang dengan track record yang sudah teruji di lapangan nyata.
Orang yang tahu bedanya proyek dan produk.
Orang yang berani men-challenge keputusan yang salah, bahkan di dalam rapat pejabat.
Tapi kalau orang seperti itu — yang sudah mengorbankan karier globalnya untuk berkontribusi — berakhir dengan tuntutan 15 tahun, maka kita sedang mengirim satu pesan yang sangat jelas ke seluruh ekosistem tech Indonesia:
Jangan masuk ke dalam sistem. Itu berbahaya.
Dan efeknya tidak akan terasa hari ini.
Tapi lima tahun lagi, ketika kita butuh orang-orang terbaik untuk memimpin transformasi digital berikutnya dan tidak ada yang mau — kita akan ingat momen ini.
Buat teman-teman profesional tech, engineer, CTO, product manager yang pernah atau sedang mempertimbangkan kontribusi ke sektor publik:
cermati kasus ini baik-baik. Bukan untuk takut — tapi untuk paham risikonya dengan mata terbuka.
Karena kalau belum, talenta terbaik kita akan tetap memilih di luar.
Dan kali ini, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.





