Masuk

AI & Produktivitas2 menit baca

Indonesia: 79% Warga Pakai AI… Tapi Startup AI Kita Bisa Dihitung Jari. Sapi perah lagi…

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Indonesia: 79% Warga Pakai AI… Tapi Startup AI Kita Bisa Dihitung Jari. Sapi perah lagi…

Indonesia: 79% Warga Pakai AI… Tapi Startup AI Kita Bisa Dihitung Jari. Sapi perah lagi, sapi perah lagi.

Beberapa hari ini saya baca dua laporan dari Bloomberg Technoz — dan jujur, makin jelas kenyataannya:
kita ini bangsa pengguna, bukan bangsa pencipta.

Fakta pedihnya:
⚫ 79% warga Indonesia pernah pakai AI — tertinggi se-ASEAN.
(ChatGPT, Gemini, Midjourney, Notion AI… semua produk luar.). ref : bloombergtechnoz

⚫ Tapi jumlah startup AI Indonesia cuma ±45 saja.
Bandingkan: Singapura > 495, Malaysia ±60.

⚫ 92% pekerja terampil Indonesia sudah pakai AI generatif untuk kerja harian.
(Artinya kita cepat adopsi — tapi tidak menciptakan.)

⚫ Bahkan Komdigi mengakui:
infrastruktur belum siap, GPU mahal, data center terbatas, talenta peneliti ML minim, dan modal (capex) untuk bangun AI itu berat.

🔴 Padahal para penyedia GPU & data center di Indonesia cerita: capacity ada, tapi yang order malah perusahaan luar negeri.

Jadi ironinya begini:
Indonesia = pengguna AI terbesar di kawasan.
Tapi investasi untuk membuat AI? Minimal.
Yang panen? Perusahaan global.

Kita jadi pasar, bukan pemain.
Jadi konsumen, bukan produsen.
Jadi pemakai, bukan penguasa teknologi.

Masalah klasiknya juga sama:

  • Talenta peneliti ML & AI engineering jarang.
  • Ekosistem R&D mandek.
  • Roadmap AI jalan, tapi lambat banget.
  • Penggerak awalnya sudah mulai “kehabisan bensin”.

Mudah2an bisa bikin melek para investor dalam negeri buat melek investasi AI buat jangka panjang.

🟡 **Mau belajar workflow AI tools** yang saya pakai tiap hari — ChatGPT, Gemini, NotebookLM, Perplexity, Gamma, sampai Nano Banana?  
Ikut sesi hands-on saya di sini (bayar segelas es kopi latte saja):

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal AI & Produktivitas

Seminggu terakhir rasanya kita tidak berhenti membaca plot twist.
AI & Produktivitas

12 Jun2 mnt

Seminggu terakhir rasanya kita tidak berhenti membaca plot twist.

Seminggu terakhir rasanya kita tidak berhenti membaca plot twist. Kepala BGN MBG ditangkap karena dugaan korupsi. Pertamax gan dini hari. PLN masih bergulat dengan pemadaman, setelah beberapa waktu lalu blackout melanda…

Indofarma: Mati Pelan di Tangan Bangsanya Sendiri
AI & Produktivitas

11 Nov2 mnt

Indofarma: Mati Pelan di Tangan Bangsanya Sendiri

Indofarma: Mati Pelan di Tangan Bangsanya Sendiri Kita sering bangga bilang: Indonesia bangsa besar. Punya BUMN raksasa, punya sejarah panjang, punya industri strategis. Tapi hari ini — satu lagi perusahaan tua berusia…

2 Hari. 1 Orang. Selesai.
AI & Produktivitas

20 Apr2 mnt

2 Hari. 1 Orang. Selesai.

2 Hari. 1 Orang. Selesai. Beberapa hari ini saya coba pakai Claude lebih dalam. Satu kata: luar biasa. Saya ambil waktu 2 hari, weekend, tanpa tim, tanpa meeting. Hanya saya dan Claude. Hasilnya? Sebuah PoC end-to-end…

Ternyata Starbucks Juga Bisa Salah Digital Transformation
AI & Produktivitas

20 Des2 mnt

Ternyata Starbucks Juga Bisa Salah Digital Transformation

Ternyata Starbucks Juga Bisa Salah Digital Transformation Sering kali kita mikir: “Yang gagal digital itu pemerintah.” “Atau korporasi di Indonesia.” Ternyata Starbucks, perusahaan global dengan teknologi kelas dunia…

PHK Tiket.com dan Blibli, Saatnya Upgrade AI
AI & Produktivitas

31 Okt2 mnt

PHK Tiket.com dan Blibli, Saatnya Upgrade AI

Edisi PHK Saudara Angkat: Tiket.com Menyusul Blibli Setelah minggu lalu Blibli (salah satu BUMD — Badan Usaha Milik Djarum) umumkan PHK lewat townhall, kali ini saudara angkatnya, Tiket.com, ikutan melakukan hal yang…

← Semua tulisan