Ternyata Starbucks Juga Bisa Salah Digital Transformation
Sering kali kita mikir:
“Yang gagal digital itu pemerintah.”
“Atau korporasi di Indonesia.”
Ternyata Starbucks, perusahaan global dengan teknologi kelas dunia, juga salah langkah.
Periode 2023–2024, di bawah CEO Laxman Narasimhan, Starbucks disebut kehilangan nilai hingga ±500 triliun rupiah.
Salah satu penyebab besarnya: transformasi digital yang keliru.
Mobile Order & Pay (MOP) didorong besar-besaran.
Pesan lewat aplikasi harusnya lebih cepat.
Faktanya?
Antrian di store justru makin parah, waktu tunggu sampai 20 menit.
Bukan karena teknologinya jelek.
Tapi karena urutan transformasinya salah.
Saya selalu percaya, digital itu harus lewat 3 tahap:
People → Process → Technology
Di Starbucks:
- Teknologi jalan dulu
- Proses di store tidak didesain ulang
- Barista overload, kapasitas dapur sama
- Digital malah jadi “amplifier” kekacauan
Pelajaran pentingnya:
Teknologi tidak memperbaiki proses yang buruk.
Teknologi hanya mempercepat dampaknya.
Dan ini relevan ke mana-mana.
Bukan cuma Starbucks.
Bukan cuma Indonesia.
Banyak organisasi:
- Mendadak aplikasi
- Mendadak online
- Mendadak AI
Tapi lupa:
apakah orangnya siap?
apakah prosesnya sederhana?
Lesson learned dari Starbucks jelas:
digital transformation bukan soal siapa paling cepat pakai teknologi,
tapi siapa paling benar urutannya.
💬 Menurutmu, berapa banyak transformasi digital yang sebenarnya cuma memindahkan antrian dari loket ke aplikasi?





