Masuk

AI & Produktivitas2 menit baca

Ternyata Starbucks Juga Bisa Salah Digital Transformation

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Ternyata Starbucks Juga Bisa Salah Digital Transformation

Ternyata Starbucks Juga Bisa Salah Digital Transformation

Sering kali kita mikir:
“Yang gagal digital itu pemerintah.”
“Atau korporasi di Indonesia.”

Ternyata Starbucks, perusahaan global dengan teknologi kelas dunia, juga salah langkah.

Periode 2023–2024, di bawah CEO Laxman Narasimhan, Starbucks disebut kehilangan nilai hingga ±500 triliun rupiah.
Salah satu penyebab besarnya: transformasi digital yang keliru.

Mobile Order & Pay (MOP) didorong besar-besaran.
Pesan lewat aplikasi harusnya lebih cepat.
Faktanya?
Antrian di store justru makin parah, waktu tunggu sampai 20 menit.

Bukan karena teknologinya jelek.
Tapi karena urutan transformasinya salah.

Saya selalu percaya, digital itu harus lewat 3 tahap:
PeopleProcessTechnology

Di Starbucks:

  • Teknologi jalan dulu
  • Proses di store tidak didesain ulang
  • Barista overload, kapasitas dapur sama
  • Digital malah jadi “amplifier” kekacauan

Pelajaran pentingnya:
Teknologi tidak memperbaiki proses yang buruk.
Teknologi hanya mempercepat dampaknya.

Dan ini relevan ke mana-mana.
Bukan cuma Starbucks.
Bukan cuma Indonesia.

Banyak organisasi:

  • Mendadak aplikasi
  • Mendadak online
  • Mendadak AI

Tapi lupa:
apakah orangnya siap?
apakah prosesnya sederhana?

Lesson learned dari Starbucks jelas:
digital transformation bukan soal siapa paling cepat pakai teknologi,
tapi siapa paling benar urutannya.

💬 Menurutmu, berapa banyak transformasi digital yang sebenarnya cuma memindahkan antrian dari loket ke aplikasi?

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal AI & Produktivitas

Dasar AI dan DeepSeek
AI & Produktivitas

6 Feb2 mnt

AI Sharing Session: Dasar AI dan DeepSeek

AI untuk Semua: Pahami Sebelum Ketinggalan! (Bonus Spill DeepSeek yang Lagi Hype!) AI bukan sekadar buzzword! Ini sesi pengenalan AI yang jelas & struktural untuk semua profesional—dari engineer, product, hingga…

Kemarin baru saja Anthropic memperkenalkan model terbarunya: Fable 5.
AI & Produktivitas

10 Jun2 mnt

Kemarin baru saja Anthropic memperkenalkan model terbarunya: Fable 5.

Kemarin baru saja Anthropic memperkenalkan model terbarunya: Fable 5. Di-claim sebagai model paling kuat mereka. Dibangun untuk reasoning yang kompleks dan agentic work jangka panjang. Yang menarik justru bukan…

Senior Engineer Pakai ChatGPT: Perlukah Coding?
AI & Produktivitas

18 Apr2 mnt

Senior Engineer Pakai ChatGPT: Perlukah Coding?

Mas, saya pakai full ChatGPT untuk bikin project freelance… dan I got paid.” Kalimat ini keluar dari seorang senior software engineer, Mas W — yang punya pengalaman lebih dari 10 tahun. Track record-nya tidak main-main…

Beberapa minggu terakhir ini saya lagi asik “mainan” Claude Code.
AI & Produktivitas

17 Mei2 mnt

Beberapa minggu terakhir ini saya lagi asik “mainan” Claude Code.

Beberapa minggu terakhir ini saya lagi asik “mainan” Claude Code. Dan jujur… ini sudah bukan sekadar vibe ngoding biasa lagi. Aplikasi Android pertama yang saya bikin full pakai Claude Code + sedikit sentuhan Google…

AI di Tambang: 3 Tantangan Agar Benar-Benar Berguna
AI & Produktivitas

8 Mei2 mnt

AI di Tambang: 3 Tantangan Agar Benar-Benar Berguna

Banyak yang ngomongin AI, tapi sedikit yang benar-benar ngerti: AI itu bukan tukang sulap. Beberapa waktu lalu saya fasilitasi satu sesi diskusi bareng narasumber expert mas Ruby Abdullah yang selama ini betul-betul…

← Semua tulisan