Mas, saya pakai full ChatGPT untuk bikin project freelance… dan I got paid.”
Kalimat ini keluar dari seorang senior software engineer, Mas W — yang punya pengalaman lebih dari 10 tahun.
Track record-nya tidak main-main:
✔️ Pernah handle sistem microservices kompleks
✔️ Stack teknologi-nya sangat up to date
✔️ Terbiasa dengan software development modern ala agile
Beberapa waktu lalu dia book sesi 1:1 dengan saya.
Pertanyaan utamanya cukup menggugah:
“Mas Faren, masih penting nggak ya belajar stack atau bahasa baru? Saya udah coba project freelance, padahal saya nggak kuasai bahasa itu, tapi pakai ChatGPT full, tweaking dikit, selesai... dan saya dibayar.
Jadi apakah kita nggak perlu belajar coding lagi?”
Jujur, ini pertanyaan yang makin sering saya dengar dari engineer yang benar-benar adopsi AI.
Dan ini juga pertanyaan yang sangat wajar.
Karena AI memang powerful banget saat ini.
Tapi saya selalu tarik ke satu pengalaman pribadi:
Saya sudah melihat sendiri beberapa paradigma shifting besar di dunia tech.
Mulai dari:
- 2GL (Assembly)
- 3GL (C, Pascal)
- 4GL (PHP, Python, JS)
- 5GL (Prompting + No/Low Code + LLMs)
🔁 Tapi nyatanya: engineer tetap ada.
Bedanya?
Tools makin gampang, pekerjaan makin cepat, ekspektasi makin tinggi, sistem makin kompleks.
Makanya saya bilang ke Mas W:
Jangan takut. Yang bisa adaptasi dan tetap relevan, justru akan leading.
Dan saya pribadi happy banget melihat Mas W sudah sejauh ini.
Artinya: mindset & kemauannya adaptasi sudah terbentuk.
Buat teman-teman tech di luar sana:
AI bukan ancaman.
Tapi peluang untuk melompat lebih tinggi — kalau kamu tahu cara menghadapinya.
🔹 Kalau kamu juga lagi galau, bingung harus mulai dari mana untuk terus bisa relevan, **ngobrol dengan saya di sini**:
🔹 Dan jangan sendirian. **Join komunitas anak**-**anak tech** yang terus ngobrolin dan eksplor AI bareng di:





