AI Hype Besar. Tapi Infrastruktur? Belum Siap.
Beberapa kali saya diminta bantu konsultasi project AI.
Biasanya pertanyaan pertama selalu:
“Pak, kalau kita jalanin ini, infrastructure AI-nya pakai apa ya?”
Jawaban gampangnya: ya pakai big players — Google, Amazon, Microsoft, Tencent, Alibaba.
Tapi kenyataannya nggak sesederhana itu.
Coba kita lihat:
Google Cloud (GCP) → Gemini via Vertex AI. Tapi inference GenAI belum ada di Jakarta. Paling dekat: Singapore.
AWS → Bedrock (Nova, Anthropic, dll). Sama, region terdekat masih Singapore.
Microsoft Azure → Azure OpenAI Service. Jakarta region memang ada, tapi service OpenAI belum tersedia di sana.
Tencent Cloud → HunYuan. Region default Tiongkok, Jakarta belum didukung untuk inference.
Alibaba Cloud → Qwen via DashScope. Endpoint internasional tetap Singapore.
Artinya apa?
Kalau bicara data sovereignty & residency, ya belum siap pak bos.
Big tech sendiri masih berkejar-kejaran ngejar compliance di region Asia Tenggara.
Pilihan akhirnya dua:
1. Tetap pakai cloud global → tapi harus kompromi, entah soal cost atau lokasi data.
2. Build & manage sendiri infra AI end-to-end → memang ribet, tapi ini justru peluang buat engineer lokal untuk ambil peran besar.
Jadi hype AI ini jangan ditelan mentah-mentah.
Fakta di lapangan, infra belum full ready.
Dan ini jadi celah emas buat pemain lokal yang bisa datang dengan solusi spesifik buat industri.
Pertanyaan saya:
Ada yang tahu pemain lokal yang sudah ready beneran dengan produk AI usable buat industri? Share dong 👇
🟡 Lagi pusing mikirin project AI kalian, dan butuh sounding realitas cost & kemungkinan implementasi? **Buzz me**, **DM mari ngobrol**.





