Masuk

Ekosistem Tech Indonesia2 menit baca

Hype AI Besar, Infrastruktur dan Residency Belum Siap

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Hype AI Besar, Infrastruktur dan Residency Belum Siap

AI Hype Besar. Tapi Infrastruktur? Belum Siap.

Beberapa kali saya diminta bantu konsultasi project AI.
Biasanya pertanyaan pertama selalu:
Pak, kalau kita jalanin ini, infrastructure AI-nya pakai apa ya?”

Jawaban gampangnya: ya pakai big players — Google, Amazon, Microsoft, Tencent, Alibaba.
Tapi kenyataannya nggak sesederhana itu.

Coba kita lihat:

Google Cloud (GCP) → Gemini via Vertex AI. Tapi inference GenAI belum ada di Jakarta. Paling dekat: Singapore.

AWS → Bedrock (Nova, Anthropic, dll). Sama, region terdekat masih Singapore.

Microsoft Azure → Azure OpenAI Service. Jakarta region memang ada, tapi service OpenAI belum tersedia di sana.

Tencent Cloud → HunYuan. Region default Tiongkok, Jakarta belum didukung untuk inference.

Alibaba Cloud → Qwen via DashScope. Endpoint internasional tetap Singapore.

Artinya apa?
Kalau bicara data sovereignty & residency, ya belum siap pak bos.
Big tech sendiri masih berkejar-kejaran ngejar compliance di region Asia Tenggara.

Pilihan akhirnya dua:
1. Tetap pakai cloud global → tapi harus kompromi, entah soal cost atau lokasi data.
2. Build & manage sendiri infra AI end-to-end → memang ribet, tapi ini justru peluang buat engineer lokal untuk ambil peran besar.

Jadi hype AI ini jangan ditelan mentah-mentah.
Fakta di lapangan, infra belum full ready.
Dan ini jadi celah emas buat pemain lokal yang bisa datang dengan solusi spesifik buat industri.

Pertanyaan saya:
Ada yang tahu pemain lokal yang sudah ready beneran dengan produk AI usable buat industri? Share dong 👇

🟡 Lagi pusing mikirin project AI kalian, dan butuh sounding realitas cost & kemungkinan implementasi? **Buzz me**, **DM mari ngobrol**.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Ekosistem Tech Indonesia

tiktok user based number
Ekosistem Tech Indonesia

19 Jan2 mnt

165 Juta Pengguna TikTok, Inovasi Kita Tertahan

165 Juta Pengguna TikTok: Indonesia, Bangsa Konsumen Selamanya? 📊 Baru saja saya lihat data ini: Indonesia jadi pengguna TikTok terbesar di dunia, 165 juta orang! Artinya, 60% penduduk Indonesia sudah melek digital dan…

Kebocoran Data 5 Tahun Terakhir dan UU PDP
Ekosistem Tech Indonesia

21 Agu2 mnt

Kebocoran Data 5 Tahun Terakhir dan UU PDP

Data Bocor: Fakta 5 Tahun Terakhir Kalau kita lihat ke belakang, kasus kebocoran data di Indonesia bukan sekali-dua kali. Dalam 5 tahun terakhir, hampir setiap tahun ada kasus besar yang ramai di media—baik dari…

Efisiensi dan Layoff: Startup Kini Disusul Pemerintah
Ekosistem Tech Indonesia

14 Feb2 mnt

Efisiensi dan Layoff: Startup Kini Disusul Pemerintah

Efisiensi = Layoff? Sekarang Bukan Cuma Startup, Pemerintah Pun Ikut Main Efisiensi. Kata yang paling ditakuti di dunia startup. Kalau sudah ada pengumuman ini, PHK di depan mata. Tapi sekarang, bukan cuma startup…

Koneksi, Upeti, dan Feodalisme Bisnis RI
Ekosistem Tech Indonesia

17 Mei2 mnt

Koneksi, Upeti, dan Feodalisme Bisnis RI

Bukan Masalah Kompetensi. Tapi Siapa yang Dapat ‘Bagian’. Refleksi dari obrolan soal bisnis di Indonesia. Beberapa waktu lalu, saya membaca tulisan dari Michal Wasserbauer — seorang founder dan investor asal Eropa yang…

CS Pajak Mengajari Hack XML, Tanda Sistem Gagal
Ekosistem Tech Indonesia

5 Mar2 mnt

CS Pajak Mengajari Hack XML, Tanda Sistem Gagal

Ketika Customer Service Pajak Kasih Solusi Hack Sendiri… Pertama, kita apresiasi dulu semangat tim kringpajak yang berusaha kasih solusi ke user. Mereka sampai kasih langkah-langkah edit XML di Notepad++ buat nge-fix…

← Semua tulisan