Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Harapan Startup Health-Tech di Tengah Resistensi

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Harapan Startup Health-Tech di Tengah Resistensi

Masih Ada Harapan Buat Startup Health-Tech?

Beberapa minggu terakhir saya banyak ngobrol dengan anak-anak muda yang lagi semangat banget merintis startup di bidang kesehatan.
Semangatnya luar biasa, confidence-nya tinggi, dan mimpinya besar.

Dan saya paham kenapa.
Teknologi sekarang sudah gila-gilaan majunya.
Kita bisa lihat sendiri: demo besar-besaran di Indonesia, bahkan di Nepal, bisa digerakkan hanya lewat aplikasi sosial media.

Kalau ruang tertutup seperti politik saja bisa “pecah” lewat teknologi, kenapa ekosistem kesehatan tidak?

Selalu ada pola:
industri yang tertutup rapat—begitu ada celah kecil + trigger tertentu → bisa boom juga.
Travel agent sudah kena,
transportasi juga.

Harusnya transisi dibuat smooth, tapi realitanya seringkali meledak.

Sayangnya, kalau kita bandingkan health-tech 10 tahun lalu dengan hari ini... tidak banyak berubah.
COVID sempat jadi trigger keterbukaan. Tapi setelahnya? Balik lagi ke pola lama: resistensi, birokrasi, dan mindset yang belum siap.
Padahal gadget dan aplikasi sudah makin canggih, dunia sudah masuk era AI-driven intelligence.

Tapi apapun itu, the show must go on.
Pembaruan dan inovasi harus tetap diusahakan.
Sebagai orang yang sudah 6 tahun membangun health-tech, saya cukup tahu jalan berliku ini—mana yang do dan mana yang dont.

Buat teman-teman yang lagi berjuang di jalur ini, ini beberapa pertimbangan sederhana yang mungkin bisa berguna:
1. Regulasi – Jangan buru-buru comply, pahami dulu landscape-nya
2. Fokus ke bisnis & customer – Tech hanya tools
3. Pastikan margin & business model sehat
4. Kalau ada layanan logistic, hitungan harus serius
5. Bangun struktur tim yang pas sejak awal

Buat yang pengen tahu lebih detail tentang do’s & don’ts di health-tech, DM saya or senggol disini https://lnkd.in/gwVDP9rE

Siapa tahu ada jalan kolaborasi atau insight yang bisa bantu kalian survive dan thrive.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Sekarang kita mulai ribut lagi soal DESIL.
Digitalisasi Kesehatan

15 Agu2 mnt

Sekarang kita mulai ribut lagi soal DESIL.

Sekarang kita mulai ribut lagi soal DESIL. Beberapa hari ini timeline ramai. Orang mulai sibuk mencari tahu: "Gue masuk desil berapa?" Pemicu utamanya karena wacana pembatasan Pertalite untuk kelompok desil 9–10…

Kita Belum Sampai di Fase “Patient as Customer” (PaC)
Digitalisasi Kesehatan

14 Apr2 mnt

Kita Belum Sampai di Fase “Patient as Customer” (PaC)

Kita Belum Sampai di Fase “Patient as Customer” (PaC) Beberapa waktu lalu saya cerita pengalaman di puskesmas. Total waktu: 3 jam lebih. Sebagian besar hanya untuk menunggu. Dan hampir semua orang punya keluhan yang…

Kenapa Klaim Asuransi Kesehatan Masih Lambat
Digitalisasi Kesehatan

6 Mei2 mnt

Kenapa Klaim Asuransi Kesehatan Masih Lambat

Asuransi Kesehatan: Kenapa Masih Seribet Ini? Punya asuransi kesehatan harusnya bikin tenang. Tapi coba deh tanya mereka yang pernah rawat inap dan harus operasi… Approval bisa 3 hari. Keluar rumah sakit? Tunggu dulu, 6…

Blueprint Digital Kesehatan Tak Cukup Tanpa Kolaborasi
Digitalisasi Kesehatan

4 Mei2 mnt

Blueprint Digital Kesehatan Tak Cukup Tanpa Kolaborasi

Dulu saya berpikir blueprint ini akan jadi jawaban. Sekarang saya sadar, tidak segampang itu kawan. Tahun 2022 saya mendapatkan dokumen resmi peta jalan transformasi digital kesehatan dari Kemenkes. Blueprint ini…

Data Publik Tersandera Vendor dan Proyek Aplikasi
Digitalisasi Kesehatan

22 Jun2 mnt

Data Publik Tersandera Vendor dan Proyek Aplikasi

Data Punya Rakyat. Tapi Tersandera Vendor. Saya baru saja diskusi dengan teman-teman dari Kementerian Kesehatan dan Bappenas. Kami sepakat: Lebih dari 1 dekade ini, kita latah bikin proyek digital — tapi hasilnya?…

← Semua tulisan