Masih Ada Harapan Buat Startup Health-Tech?
Beberapa minggu terakhir saya banyak ngobrol dengan anak-anak muda yang lagi semangat banget merintis startup di bidang kesehatan.
Semangatnya luar biasa, confidence-nya tinggi, dan mimpinya besar.
Dan saya paham kenapa.
Teknologi sekarang sudah gila-gilaan majunya.
Kita bisa lihat sendiri: demo besar-besaran di Indonesia, bahkan di Nepal, bisa digerakkan hanya lewat aplikasi sosial media.
Kalau ruang tertutup seperti politik saja bisa “pecah” lewat teknologi, kenapa ekosistem kesehatan tidak?
Selalu ada pola:
industri yang tertutup rapat—begitu ada celah kecil + trigger tertentu → bisa boom juga.
Travel agent sudah kena,
transportasi juga.
Harusnya transisi dibuat smooth, tapi realitanya seringkali meledak.
Sayangnya, kalau kita bandingkan health-tech 10 tahun lalu dengan hari ini... tidak banyak berubah.
COVID sempat jadi trigger keterbukaan. Tapi setelahnya? Balik lagi ke pola lama: resistensi, birokrasi, dan mindset yang belum siap.
Padahal gadget dan aplikasi sudah makin canggih, dunia sudah masuk era AI-driven intelligence.
Tapi apapun itu, the show must go on.
Pembaruan dan inovasi harus tetap diusahakan.
Sebagai orang yang sudah 6 tahun membangun health-tech, saya cukup tahu jalan berliku ini—mana yang do dan mana yang don’t.
Buat teman-teman yang lagi berjuang di jalur ini, ini beberapa pertimbangan sederhana yang mungkin bisa berguna:
1. Regulasi – Jangan buru-buru comply, pahami dulu landscape-nya
2. Fokus ke bisnis & customer – Tech hanya tools
3. Pastikan margin & business model sehat
4. Kalau ada layanan logistic, hitungan harus serius
5. Bangun struktur tim yang pas sejak awal
Buat yang pengen tahu lebih detail tentang do’s & don’ts di health-tech, DM saya or senggol disini https://lnkd.in/gwVDP9rE
Siapa tahu ada jalan kolaborasi atau insight yang bisa bantu kalian survive dan thrive.





