Masuk

AI & Produktivitas2 menit baca

Dua tahun lalu saya mendengar banyak cerita dari teman-teman startup di Jogja.

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Dua tahun lalu saya mendengar banyak cerita dari teman-teman startup di Jogja.

Dua tahun lalu saya mendengar banyak cerita dari teman-teman startup di Jogja.

Ceritanya tidak terlalu menyenangkan.

PHK terjadi di mana-mana.

Banyak teman-teman tech yang akhirnya mengambil jalan yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Ada yang mulai berjualan.
Ada yang kembali bertani.
Ada yang beternak.

Ada juga yang kembali mengambil proyek apa pun yang bisa menjaga dapur tetap menyala.

Bukan karena mereka menyerah pada teknologi.

Tapi karena hidup tetap harus berjalan.

Minggu ini saya kembali berkunjung ke Jogja. Di sela-sela agenda utama, saya menyempatkan bertemu beberapa teman startup dan komunitas teknologi di sana.

Salah satu yang hadir adalah penggerak komunitas startup Jogja mas Ade Rahadian, yang menaungi sekitar 140+ startup.

Obrolannya cukup membuka mata.

Ternyata banyak startup yang sebelumnya bertahan dari berbagai program pendampingan, inkubasi, dan proyek-proyek pemerintah mulai kehilangan ruang tumbuh.

Program-program yang dulu masuk kampus, mendampingi founder muda, mempertemukan startup dengan mentor dan pasar, satu per satu mulai berkurang. Bahkan beberapa hilang sama sekali.

Alasannya macam-macam.

Salah satunya karena prioritas anggaran yang bergeser.

Akibatnya, banyak startup yang tadinya fokus membangun produk kembali realistis.

Kembali proyekan.
Kembali mencari cashflow.
Kembali fokus bertahan hidup.

Dan jujur saja, saya bisa memahami itu.

Karena sulit bicara inovasi ketika runway semakin pendek.

Sulit bicara ekspansi ketika kebutuhan dasar bisnis belum aman.

Tapi ada satu momen yang menarik.

Ketika obrolan mulai masuk ke topik AI, agent, dan peluang membangun produk baru yang jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu, suasana tiba-tiba berubah.

Mata yang tadi terlihat lelah mulai berbinar.

Diskusi menjadi lebih hidup.
Ide mulai bermunculan.
Harapan itu ternyata masih ada.
Mimpi itu ternyata belum mati.

Mungkin itulah yang paling saya bawa pulang dari Jogja.

Di tengah segala keterbatasan, efisiensi, dan tantangan ekonomi yang sedang kita hadapi, saya masih melihat banyak orang yang ingin membangun sesuatu.

Mereka hanya butuh alasan untuk percaya bahwa masa depan masih layak diperjuangkan.

Kunjungan singkat ini terasa seperti singgah dan berhenti sejenak dari hiruk pikuk ibu kota.

Mengingatkan saya bahwa Indonesia tidak hanya tentang apa yang ramai di media sosial atau ruang-ruang rapat Jakarta.

Ada banyak cerita lain yang lebih hangat.

Lebih membumi.

Dan sering kali justru dari sanalah optimisme itu lahir kembali.

Terima kasih Jogja untuk obrolan, perspektif, dan pengingat bahwa di balik segala tantangan yang ada hari ini, masih banyak orang yang memilih untuk terus mencoba membangun masa depan.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal AI & Produktivitas

← Semua tulisan