Grab dan GoTo Sama-Sama Untung.
Tapi Angkanya Sejujurnya: Gajah vs Kancil 😅
Menarik lihat beberapa minggu ini.
Dua “perusahaan hijau” akhirnya sama-sama mulai benar-benar hijau secara keuangan.
GoTo baru saja mengumumkan laba bersih Rp171 miliar di Q1 2026.
Lalu tidak lama kemudian Grab juga rilis laporan:
US$120 juta net profit di Q1 2026.
Kalau dikonversi?
Kurang lebih:
Grab: Rp2,09 triliun
GoTo: Rp171 miliar
Selisihnya sekitar 12x lipat.
Dan kalau lihat revenue:
Grab sekitar Rp16,6 triliun
GoTo sekitar Rp5,3 triliun
Kurang lebih masih 3x lebih besar.
Jadi walaupun sama-sama akhirnya profit,
skala pertarungannya ternyata sudah jauh berbeda.
Kenapa Grab bisa lebih kencang?
Menurut saya ada beberapa hal.
Pertama:
Grab bermain regional.
Mereka bukan cuma kuat di Indonesia.
Tapi juga Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina.
Artinya:
market lebih besar,
revenue lebih lebar,
dan efisiensi operasional lebih terasa.
Kedua:
The “TikTok-Tokopedia” Divorce Effect.
GoTo sekarang terlihat lebih ramping karena Tokopedia sudah tidak lagi membebani laporan konsolidasi mereka.
Efeknya?
Lebih mudah mencetak profit.
Tapi konsekuensinya:
angka revenue dan GTV juga tidak lagi segede dulu.
Ketiga:
profit driver-nya berbeda.
Grab sangat kuat di mobility.
Ditambah mereka mulai memetik hasil dari digital bank mereka.
Sementara GoTo sekarang justru ditopang fintech:
GoPay jadi mesin pertumbuhan utama.
Dan ironisnya,
layanan yang dulu membesarkan Gojek:
ojek dan food delivery,
justru sekarang lagi diefisiensi besar-besaran.
Tapi di luar semua angka itu,
buat saya ada dilema yang menarik.
Nama PT-nya saja:
PT Karya Anak Bangsa.
Dan memang banyak orang Indonesia punya emotional attachment ke Gojek.
Karena ini salah satu startup lokal yang benar-benar lahir dari sini.
Tapi kalau dibandingkan negara lain,
support terhadap tech champion kita terasa setengah hati.
China full support Alibaba dan TikTok.
Amerika full support Google, Meta, OpenAI.
Mereka dilindungi,
didorong,
dan dibesarkan sampai jadi monster global.
Sementara di sini?
Kadang terasa:
baru mulai untung sedikit,
langsung kena tekanan baru 😅
Mulai dari regulasi,
potongan aplikator,
sampai sekarang sahamnya mulai masuk lewat Danantara.
Yaa…
harusnya Gojek bisa sebesar Grab.
Tapi ya begitulah.
Kalau kamu lagi bangun startup, scaling bisnis digital, eksplor AI, atau mau diskusi digitalisasi — ngobrol yuk.
DM saja 🙂





