Masuk

AI & Produktivitas2 menit baca

Cloudflare Down, PSE Drama, dan Dilema Kita Semua

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Cloudflare Down, PSE Drama, dan Dilema Kita Semua

Cloudflare Down, PSE Drama, dan Dilema Kita Semua

Tanggal 18 November 2025 kemarin Cloudflare sempat outage global. Bukan down kecil—tapi beneran bikin banyak layanan tumbang bareng.
Setelah ditelusuri, penjelasan resmi Cloudflare cukup clear:

  • Ada perubahan konfigurasi router di beberapa lokasi yang bikin traffic ke data center mereka kacau total.
  • Propagation-nya meluas, dan karena Cloudflare jadi fondasi ratusan ribu layanan, efeknya berantai.
  • Mereka rollback, stabilisasi routing, dan monitoring sampai pulih.
  • Intinya: bukan serangan, bukan karena block, tapi murni technical outage.

Tapi…
Karena momen ini berbarengan banget dengan berita bahwa Komdigi mengancam memblokir Cloudflare & ChatGPT karena belum daftar PSE, publik langsung curiga.
Apalagi ditambah statement lain dari Komdigi bahwa ribuan situs judi online memakai proteksi Cloudflare, makin ramai saja narasinya.

Masalahnya lebih dalam dari sekadar “blokir atau tidak blokir”.
Kita ini berada di dilema klasik:

  • Kalau anak bangsa bikin layanan online => WAJIB PSE.
  • Tapi kalau platform global raksasa yang dipakai oleh separuh internet? Ya… “sedang dibahas”.

Padahal kenyataannya:
Cloudflare, Google, OpenAI, Meta, Spotify, semuanya hampir tidak tergantikan.
Secara teknologi, ekosistem lokal kita belum bisa menandingi foundational infra seperti mereka.

Di satu sisi kita butuh regulasi.
Di sisi lain… kita juga butuh internet yang tetap jalan.

Negara yang bisa eksekusi model proteksi ketat hanya segelintir—China contohnya.
Tapi kenapa mereka bisa?
Karena mereka punya alternatif lokal yang kuat:

  • Google (blok) → Baidu
  • WhatsApp (blok) → WeChat
  • Facebook (blok) → Weibo
  • Cloudflare (blok) → layanan CDN domestik Mereka tidak sekadar melarang — mereka membangun ekosistem tandingan.

Jadi apa solusinya? Reality check dulu.
1️⃣ PSE itu perlu—tapi eksekusinya harus bertahap, realistis, dan tidak mengorbankan stabilitas digital nasional.
2️⃣ Bangun alternatif lokal dulu sebelum menekan layanan global.
3️⃣ Jangan salahkan teknologinya—yang salah tata kelolanya.
4️⃣ Kita sebagai individu? Siapin skill. Jangan jadi penonton.

Jadi daripada panik soal kemungkinan “blokir sana sini”,
lebih baik kita upgrade skill dan adaptasi lebih cepat.

~~
Mau belajar workflow AI tools buat kerja harian?
Saya bikin sesi hands-on: ChatGPT, Gemini, Perplexity, NotebookLM, Gamma, Nano Banana.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal AI & Produktivitas

← Semua tulisan