Banyak orang mengira dampak ekonomi itu baru terasa kalau kita langsung berhubungan dengan dolar.
Padahal sistem ekonomi tidak bekerja se-sederhana itu.
Petani tidak perlu punya akun USD untuk kena dampaknya.
Karena yang bergerak diam-diam adalah:
- harga pupuk,
- ongkos logistik,
- BBM,
- bahan pangan impor,
- bunga kredit,
- sampai margin UMKM kecil di desa.
Gandum impor.
Kedelai impor.
Solar tergantung harga global.
Indonesia juga net oil importer sejak 2004.
Jadi ketika rupiah melemah, efeknya merembet ke mana-mana.
Bukan lewat headline ekonomi.
Tapi lewat:
“kok pupuk makin susah?”
“kok harga tempe tahu naik?”
“kok cicilan makin berat?”
"kok minyak goreng naik"?
Dan justru di situlah problem terbesarnya:
kita sering terlambat membaca sinyal.
Di dunia tech, ada istilah observability.
Kalau sistem tidak punya monitoring dan visibility yang cukup, kita merasa semuanya baik-baik saja… sampai masalahnya sudah menyebar ke mana-mana.
Menariknya, banyak program digitalisasi kita juga masih terjebak di situ.
- Sibuk bikin aplikasi.
- Sibuk onboarding user.
- Sibuk hitung transaksi digital.
Tapi pertanyaan paling pentingnya sering tertinggal:
apakah data yang terkumpul benar-benar dipakai untuk membaca pola dan mengambil keputusan lebih cepat?
Karena digitalisasi yang sesungguhnya bukan soal memindahkan proses manual ke aplikasi.
Tapi membuat sistem lebih cepat membaca realita dibanding persepsi manusia.
Sehingga keputusan strategis dan komunikasi public lebih tepat dan tidak blunder.
Dan menurut saya, di situlah pekerjaan rumah terbesar kita hari ini.





