Siapa Arsitek Digital Indonesia Sebenarnya?
Kenapa justru sektor lain bikin sistem sendiri-sendiri?
Dari korupsi BTS era Menkominfo Johny Plate,
ke kisruh judi online era Menkominfo Budi Arie.
Di periode akhir Jokowi, sektor digital jadi bancakan.
Padahal… ini harusnya garda depan transformasi digital bangsa.
Dan sekarang kita rasakan dampaknya:
- Data publik berserakan
- Sistem e-gov jalan masing-masing
- Arsitektur digital nasional? Nggak ada
Pemerintah pusat dan BUMN bikin “govtech” sendiri-sendiri:
- DTO (Kemenkes)
- Platform Merdeka (Kemendikbud)
- Telkom bikin govtech sendiri
- Peruri urus tanda tangan digital
- BUMN lain bikin platform sendiri
- Bapenas bikin Satu Data Indonesia
Semua jalan. Semua digital. Tapi semua nggak nyambung.
Arsitek datanya kemana? Ya harusnya Kominfo.
Tapi sekarang? Sibuk klarifikasi soal judi online. 😮💨
Kita ini sedang tertinggal 20–30 tahun.
Sementara dunia sudah kejar-kejaran AI, kita baru mulai urus standar data dasar.
Padahal AI itu hausnya data digital.
Dan kita? Baru mulai digitalisasinya sekarang.
Contoh nyata?
Rekam Medis Elektronik.
Yang disepakati baru data sejak 2023.
Data kesehatan 10 tahun terakhir? Dibuang. Cut-off.
Dan itu semua dianggap “ya sudah terima aja”.
Negara ini nggak bisa terus begini.
Transformasi digital bukan cuma soal bikin aplikasi.
Tapi soal membangun ekosistem yang saling bicara.
Soal arsitektur data yang satu pintu.
Soal kolaborasi, bukan proyek bancakan.
Kalau kita semua diam,
salah satu sektor paling strategis ini
akan terus diseret-seret demi kepentingan jangka pendek - KOMDIGI
Kalau kamu punya keresahan yang sama atau ide konkret untuk bantu negeri ini lebih waras secara digital:
- Mau ngobrol buat kolaborasi?
- Punya startup tapi bingung mulai branding & scale?
- Butuh mentoring intensif sampai jadi?
🟡 Mentoring ke sini https://lnkd.in/gaiB8w8n





