Setelah cukup banyak bereksperimen dengan Claude Code, saya akhirnya memutuskan:
Yuk bikin sesuatu yang lebih serius.
Bukan demo.
Bukan pet project.
Bukan aplikasi yang selesai dalam beberapa jam lalu ditinggalkan.
Tapi produk yang benar-benar akan dipakai orang.
Pertanyaan berikutnya:
Mau bikin apa?
Saya bisa kembali ke healthtech.
Saya pernah membangun startup di sana.
Saya bisa masuk fintech.
Saya juga pernah di sana.
Saya bisa masuk marketplace.
Tapi anehnya, saya malah memilih travel.
Bukan karena travel belum punya pemain besar.
Justru sebaliknya.
Travel sudah punya OTA yang sangat matang.
- Traveloka.
- Tiket.
- Agoda.
- Booking.com.
Mereka sudah menyelesaikan satu masalah besar sejak lama:
booking.
Tapi setelah saya amati lagi, masalah terbesar traveler ternyata bukan booking.
Masalah terbesar justru terjadi sebelum booking.
Memilih.
Menentukan.
Mengambil keputusan.
Libur sekolah sebentar lagi.
Enaknya ke mana?
Kalau ke Jogja nginep di mana?
Kalau bawa keluarga lebih cocok hotel atau villa?
Kalau cuma tiga hari, tempat mana yang wajib didatangi?
Untuk menjawab pertanyaan sederhana seperti itu, biasanya kita harus membuka TikTok, Instagram, Google, Maps, OTA, lalu menyatukan semuanya sendiri.
Saya mulai melihat ada problem menarik di sana.
Karena itu saya mengajak Abi Dwiaji, teman diskusi yang sudah lama saya kenal.
Saya datang dengan perspektif product dan technology.
Abi datang dengan perspektif commercial dan partnership.
Ketika saya bilang:
"Saya pengen bikin AI Travel."
Dia langsung paham.
Problem statement cepat ketemu.
Visi besarnya juga relatif jelas.
Lalu kami mulai bekerja dengan cara yang cukup unik.
Bukan langsung coding.
Justru banyak diskusi.
Menyusun requirement.
Merancang user flow.
Membuat decision flow.
Dan setiap kali ada keputusan baru, langsung kami minta Claude membuat dokumen dan menyimpannya ke Notion.
Cepat.
Rapi.
Walaupun cukup boros token. 😄
Sekitar satu minggu kemudian, hasilnya mulai bisa dicoba.
Kami memberi nama eksperimen ini:
StayTrip
Masih sangat awal.
Masih banyak yang perlu diperbaiki.
Tapi cukup menarik untuk membuktikan satu hal:
Membangun produk dengan AI ternyata jauh lebih menantang dibanding sekadar membuat aplikasi dengan AI.
Kalau penasaran, boleh coba di staytrip.id https://staytrip.id/
Di tulisan berikutnya saya akan cerita bagian yang paling membuat saya terkejut ketika mulai membangun AI Travel Assistant ini.





