Masuk

AI & Produktivitas2 menit baca

Product Manager. Designer. Frontend. Backend.

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Product Manager. Designer. Frontend. Backend.

Product Manager. Designer. Frontend. Backend.

Digabung jadi satu.

Itu yang disampaikan Satya Nadella.

Di Microsoft dan LinkedIn, mereka mulai menggabungkan 4 role tradisional menjadi satu posisi baru:
Full-Stack Builder.

Alasannya?

AI coding assistants sudah memungkinkan satu orang meng-handle lintas disiplin.
Silo mulai tidak relevan.

⸻

Kalau kamu kerja di tech, ini bukan statement kecil.

Ini naik satu level lagi.

Dulu saya pernah sering bahas tentang product engineer —
engineer yang bukan cuma bisa coding, tapi punya sense of product, ngerti domain, ngerti user.

Sekarang?

AI mendorong lebih jauh lagi.

Bukan cuma engineer yang ngerti product.
Tapi satu individu yang bisa:

  • define problem
  • design flow
  • build UI
  • develop backend
  • iterate cepat

Dengan bantuan AI.

Ini bukan hype.

Sudah diterapkan.

⸻

Artinya apa?

Struktur tim klasik mulai bergeser.

Yang dulu:
1 PM
1 Designer
2 Frontend
2 Backend

Sekarang bisa jadi:
1–2 builder + AI stack.

Apakah semua role akan hilang?

Tidak.

Tapi standar kompetensinya naik.

Kalau masih berpikir:
“Saya cuma frontend.”
“Saya cuma designer.”
“Saya cuma backend.”

Hati-hati.

AI tidak mengenal batas jobdesc.

⸻

Buat teman-teman engineer, designer, product:

Open your mind.

Bukan soal siapa yang paling jago tools.
Tapi siapa yang paling cepat beradaptasi dan berpikir lintas fungsi.

Full-Stack Builder bukan tren.
Itu arah.

Setuju? Atau menurut kamu ini terlalu ekstrem?

Kalau mau ngobrol lebih dalam soal AI dan transformasi tim product:

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Komentar

Masuk untuk ikut berkomentar

Masuk

Tulisan lain soal AI & Produktivitas

← Semua tulisan