Investasi Publik dan Risiko Gagal Fungsi: eFishery, TaniHub, Nadiem
Bulan ini warna pink mendadak jadi trend di Indonesia.
Dari rompi pink tersangka Kejaksaan, sampai pink-hijau tuntutan 17+8 yang memadati jalanan.
Dan di tengah hiruk-pikuk itu, kabar mengejutkan justru datang dari dunia yang dulu kita banggakan: startup dan teknologi.
- eFishery – Eks CEO Gibran Huzaifah ditahan karena dugaan penggelapan dana investasi Rp15 miliar.
- TaniHub – Investasi publik lewat MDI Ventures & BRI Ventures senilai US$25 juta dituding jadi ajang korupsi & pencucian uang.
- Nadiem Makarim – Founder Gojek & eks Mendikbud, resmi jadi tersangka kasus pengadaan Chromebook Rp1,9 triliun.
Tiga nama besar. Tiga cerita yang bikin kita geleng kepala.
Kita harus jujur:
Model “startup + modal publik” seharusnya jadi mesin transformasi.
Tapi tanpa governance, hasilnya bukan transformasi—melainkan modus bailout & skandal.
Budaya “bakar duit” tanpa akuntabilitas membuat:
- Investor publik kehilangan trust,
- Startup kehilangan legitimasi,
- Anak muda kehilangan role model.
Terus, gimana dong?
Buat teman-teman muda yang lagi membangun mimpi—jangan patah arang.
1. Jangan berhenti berjuang. Indonesia itu luas sekali. Masih banyak ruang untuk inovasi yang beneran berdampak.
2. Belajar dari kegagalan founder sebelumnya. Lihat polanya, hindari jebakannya.
3. Hype para investor akhirnya terbuka. Jangan silau dengan valuasi, pahami permainannya.
4. Jangan sendirian. Cari teman, cari mentor, gabung komunitas seperti Tech Voice Indonesia, biar perjalanan lebih kuat dan sehat.
Menurut saya, kuncinya tetap di governance dan culture.
Kalau kita bisa tumbuhkan budaya transparansi sejak awal, ekosistem startup Indonesia nggak harus jatuh ke lubang yang sama.
🟡 Join Tech Community disini https://lnkd.in/gR4hdQhf





