Menurut saya angle paling menarik bukan lagi "AI bisa coding atau tidak?"
Karena itu sudah selesai.
Yang lebih menarik adalah:
Banyak orang sedang mengira mereka sudah menjadi software company hanya karena berhasil membuat aplikasi dengan AI.
Padahal baru sampai tahap membuat aplikasi.
Belum sampai tahap menjalankan bisnis di atas aplikasi itu.
Beberapa bulan terakhir saya cukup banyak bereksperimen dengan Claude Code.
Awalnya untuk pet project.
Bikin aplikasi Android, iOS, sampai running di HP dalam hitungan jam.
Saya bahkan membuka beberapa sesi workshop, dan jujur saja, banyak peserta yang sama excited-nya dengan saya ketika melihat aplikasi muncul begitu cepat dari sebuah ide.
Dan memang sulit untuk tidak kagum.
Kita hidup di masa di mana satu orang bisa menghasilkan output yang dulu membutuhkan satu tim kecil engineer.
Saya sendiri sudah membuat beberapa aplikasi yang levelnya masih "for fun". Eksperimen. Validasi ide. Green project.
Sampai kemudian muncul pertanyaan yang jauh lebih menarik.
Kalau project production beneran gimana?
Yang user-nya banyak.
Yang datanya sensitif.
Yang harus stabil.
Yang kalau error bukan cuma malu, tapi bisa berdampak ke bisnis.
Apakah Claude Code masih relevan?
Jawabannya: iya, sangat relevan.
Tapi di sinilah banyak orang mulai salah paham.
Karena ketika masuk ke production level, coding ternyata hanya sebagian kecil dari pekerjaan.
Masih ada desain sistem.
Data model.
Security.
Authentication.
Monitoring.
Logging.
Backup.
Scalability.
Recovery.
Deployment.
Dan puluhan keputusan teknis lain yang tidak terlihat di demo TikTok berdurasi 60 detik.
Saya sedang menginisiasi sebuah project baru yang jauh lebih serius dibanding eksperimen sebelumnya.
Dari ideation, PRD, perencanaan, design flow, dokumentasi, sampai development.
Dan saya harus mengakui:
Claude membantu mungkin 70–80%.
Notion + MCP membuat dokumentasi jauh lebih rapi.
Claude Code saya pakai sampai berkali-kali mentok limit dalam sehari.
Google Stitch juga cukup membantu untuk eksplorasi UI, walaupun ketika masuk project serius mulai terasa batasannya.
Yang menarik?
Saya tidak merasa seperti bekerja sendirian.
Rasanya seperti punya satu tim engineer yang selalu siap diajak diskusi 24 jam.
Tapi tetap saja...
AI tidak menggantikan kebutuhan untuk memahami bagaimana software production dibangun dengan benar.
Karena yang sedang berubah bukan hanya cara coding.
Yang berubah adalah leverage seorang builder.
Dan menurut saya, ini jauh lebih besar daripada sekadar hype "vibe coding".
Di tulisan lain saya akan share lika-liku menggunakan Claude Code untuk project yang benar-benar serius.
Mulai dari yang berjalan mulus sampai bagian yang membuat saya beberapa kali ingin banting laptop. Hahaha..
Kalau perusahaan atau tim Anda sedang mulai mengevaluasi bagaimana mengadopsi AI untuk software development, product, atau workflow engineering, boleh ngobrol.
DM terbuka.
Atau langsung ke:





