Masuk

AI & Produktivitas2 menit baca

Kesopanan di AI Mahal, Empati Jadi Kemewahan

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Kesopanan di AI Mahal, Empati Jadi Kemewahan

Ternyata, Mengajarkan Kesopanan ke AI Itu Mahal Banget

Beberapa hari lalu, Sam Altman (founder OpenAI) menulis pernyataan sederhana, tapi bikin ramai:

"I wonder how much money OpenAI has lost in electricity costs from people sayingpleaseandthank youto their models.”

Tens of millions of dollars well spentyou never know.”

Kalimat ini terlihat santai, tapi deep banget.
Mengajarkan kesopanan, empati, atau sekadar “tepo seliro” ke AI — mahalnya bukan main.
Dan itu cuma dari kata “please” dan “thank you”.

AI mungkin bisa dipaksa sopan, tapi memahami makna manusiawi seperti “mengalah”, “berempati”, “memahami sudut pandang lain” — itu belum tentu bisa dibayar dengan ratusan juta dolar sekalipun.

Dan ini mengingatkan saya pada sebuah pengalaman personal.
Dulu saya pernah membangun startup dengan seseorang yang selalu bilang:
Saya orangnya logic banget. Empati saya agak kurang.”

Keliatannya keren dan jujur. Tapi efeknya?
Semua keputusan diambil dengan pendekatan ego & logika sepihak.
Saran didengar tapi nggak dimaknai. Konflik dengan partner jadi makin besar.
Dan ya… startup-nya gagal.

Padahal logika doang tanpa empati itu cuma kalkulasi dingin.
Dan makin ke sini, saya makin yakin:
Di dunia yang semakin canggih, empati justru jadi kemewahan.

Kita boleh diskusi soal AI, big data, LLM, bahkan AGI…
Tapi jangan lupa:

Jangan pernah lupa bilangterima kasih
Jangan pernah gengsi bilangmaaf
Jangan pernah jadi terlalu sombong untuk bilangtolong

Karena yang mahal hari ini… bukan teknologi,
tapi jadi manusia yang tetap manusia.


🔸 Lagi gelisah lihat tren AI dan pengaruhnya ke dunia kerja & hubungan antarmanusia?  
Yuk ngobrol bareng saya di sini: https://lnkd.in/gwVDP9rE

🔸 Atau pengen masuk ke komunitas tech yang masih waras & manusiawi?

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal AI & Produktivitas

AI bikin engineer berkurang?
AI & Produktivitas

4 Apr2 mnt

AI bikin engineer berkurang?

AI bikin engineer berkurang? Atau justru bikin demand makin brutal? Narasi yang lagi ramai sekarang: AI → engineer berkurang → layoff Kedengarannya masuk akal. Tapi kalau dilihat dari dalam organisasi… realitanya jauh…

Product Manager. Designer. Frontend. Backend.
AI & Produktivitas

24 Feb2 mnt

Product Manager. Designer. Frontend. Backend.

Product Manager. Designer. Frontend. Backend. Digabung jadi satu. Itu yang disampaikan Satya Nadella. Di Microsoft dan LinkedIn, mereka mulai menggabungkan 4 role tradisional menjadi satu posisi baru: Full-Stack…

Meta baru saja layoff 8.000 karyawan.
AI & Produktivitas

21 Mei2 mnt

Meta baru saja layoff 8.000 karyawan.

Meta baru saja layoff 8.000 karyawan. Bukan karena perusahaan rugi. Bukan karena bisnisnya jatuh. Revenue mereka justru pecah rekor: US$56 miliar lebih dalam satu kuartal. Dan justru itu yang menurut saya paling…

Beberapa hari lalu saya mencoba build aplikasi Android end-to-end menggunakan workflow …
AI & Produktivitas

8 Mei2 mnt

Beberapa hari lalu saya mencoba build aplikasi Android end-to-end menggunakan workflow …

Beberapa hari lalu saya mencoba build aplikasi Android end-to-end menggunakan workflow AI-native: mulai dari ide, PRD, desain UI di Google Stitch, sampai coding dengan Claude Code. Dan hasilnya, aplikasinya sudah…

Indofarma: Mati Pelan di Tangan Bangsanya Sendiri
AI & Produktivitas

11 Nov2 mnt

Indofarma: Mati Pelan di Tangan Bangsanya Sendiri

Indofarma: Mati Pelan di Tangan Bangsanya Sendiri Kita sering bangga bilang: Indonesia bangsa besar. Punya BUMN raksasa, punya sejarah panjang, punya industri strategis. Tapi hari ini — satu lagi perusahaan tua berusia…

← Semua tulisan