Ternyata, Mengajarkan Kesopanan ke AI Itu Mahal Banget
Beberapa hari lalu, Sam Altman (founder OpenAI) menulis pernyataan sederhana, tapi bikin ramai:
"I wonder how much money OpenAI has lost in electricity costs from people saying ‘please’ and ‘thank you’ to their models.”
“Tens of millions of dollars well spent — you never know.”
Kalimat ini terlihat santai, tapi deep banget.
Mengajarkan kesopanan, empati, atau sekadar “tepo seliro” ke AI — mahalnya bukan main.
Dan itu cuma dari kata “please” dan “thank you”.
AI mungkin bisa dipaksa sopan, tapi memahami makna manusiawi seperti “mengalah”, “berempati”, “memahami sudut pandang lain” — itu belum tentu bisa dibayar dengan ratusan juta dolar sekalipun.
Dan ini mengingatkan saya pada sebuah pengalaman personal.
Dulu saya pernah membangun startup dengan seseorang yang selalu bilang:
“Saya orangnya logic banget. Empati saya agak kurang.”
Keliatannya keren dan jujur. Tapi efeknya?
Semua keputusan diambil dengan pendekatan ego & logika sepihak.
Saran didengar tapi nggak dimaknai. Konflik dengan partner jadi makin besar.
Dan ya… startup-nya gagal.
Padahal logika doang tanpa empati itu cuma kalkulasi dingin.
Dan makin ke sini, saya makin yakin:
Di dunia yang semakin canggih, empati justru jadi kemewahan.
Kita boleh diskusi soal AI, big data, LLM, bahkan AGI…
Tapi jangan lupa:
Jangan pernah lupa bilang “terima kasih”
Jangan pernah gengsi bilang “maaf”
Jangan pernah jadi terlalu sombong untuk bilang “tolong”
Karena yang mahal hari ini… bukan teknologi,
tapi jadi manusia yang tetap manusia.
🔸 Lagi gelisah lihat tren AI dan pengaruhnya ke dunia kerja & hubungan antarmanusia?
Yuk ngobrol bareng saya di sini: https://lnkd.in/gwVDP9rE
🔸 Atau pengen masuk ke komunitas tech yang masih waras & manusiawi?





