Masuk

AI & Produktivitas2 menit baca

AI bikin engineer berkurang?

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
AI bikin engineer berkurang?

AI bikin engineer berkurang?
Atau justru bikin demand makin brutal?

Narasi yang lagi ramai sekarang:
AIengineer berkuranglayoff

Kedengarannya masuk akal.

Tapi kalau dilihat dari dalam organisasi…

realitanya jauh lebih nuanced. Tidak sesederhana itu.

Yang terjadi bukan replacement.
Tapi recomposition of work.

AI memang:

  • ngurangin kerjaan trivial
  • percepat coding
  • bantu debugging & knowledge

Tapi yang tidak berkurang:

  • kompleksitas sistem
  • ekspektasi bisnis
  • kebutuhan integrasi
  • scaling & reliability

Jadi bukan:
kerja berkurang

Tapi:
kapasitas naikekspektasi naik lebih cepat

Dan di sinilah yang sering miss.
AI bukan bikin kerja lebih sedikit.

AI bikin bisnis bilang:
kalau bisa cepat, kenapa nggak lebih banyak?”

Engineer hari ini bukan cuma build feature.
Sekarang harus:

  • integrate AI (LLM, RAG, agent)
  • handle data pipeline
  • design system + prompt
  • optimize cost (AI mahal 😄)

Ini bukan simplifikasi.

Ini expansion of surface area.

Belum lagi kalau AI dijadikan capability.
Bukan sekadar tool.

Artinya?

  • internal AI platform
  • agent orchestration
  • evaluation system

ini bukan replace team lama
ini butuh team baru

Jadi dilema sebenarnya bukan:
hire engineer vs build AI

Tapi:
short-term delivery vs long-term leverage

Cara berpikir yang lebih waras:

  • 0–6 bulan → scale team (biar bisnis jalan)
  • 6–18 bulan → build AI capability
  • 18+ bulan → mulai replace sebagian workflow

Dan ini penting:
jangan mulai dariAI agent
mulai dariworkflow

AI itu bukan pengganti.
AI itu force multiplier.

Engineer jadi 2–5x lebih produktif.

Masalahnya?
Bisnis akan minta 10x 😄

Jadi… layoff itu karena AI?

Sebagian iya yaa gitu deh.
Tapi lebih sering:

  • overhiring
  • cost correction
  • shift ke efficiency

AI cuma jadi alasan yang paling mudah dijelaskan.

Kalau kamu di posisi leader…

jangan tanya:
“AI bisa ganti berapa orang?”

Tapi tanya:
“Dengan AI, seberapa besar kita bisa naikin ambition level product kita?”

Karena pada akhirnya…

ini bukan soal:
hire vs AI

Tapi soal:
design organisasi yang bisa survive di era AI.


Kalau kamu lagi mikir ini di company kamu,
atau lagi di dilema scaling vs AI…

boleh ngobrol.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal AI & Produktivitas

← Semua tulisan