Gojek seperti sedang tertimpa dari banyak arah sekaligus.
Pasca IPO yang tidak pernah benar-benar smooth.
Saham nyungsep sampai area gocap.
MSCI freeze.
Tekanan tuntutan potongan komisi 8%.
Dan sekarang founder-nya menghadapi tuntutan yang angkanya bahkan membuat banyak orang terdiam: 27 tahun penjara.
Kalau melihat semua headline ini berdekatan, jujur pertanyaan yang muncul di kepala saya sederhana:
Apakah ini game over untuk industri tech Indonesia?
Kalau melihat dari luar, rasanya seperti narasi besar yang dulu dibangun bertahun-tahun sedang runtuh satu per satu.
Dulu startup dianggap simbol masa depan.
Tempat anak-anak muda terbaik berkumpul.
Tempat teknologi, inovasi, dan mimpi besar dibangun.
Hari ini narasinya berubah.
Layoff.
Fraud.
Burn rate.
Valuasi jatuh.
Founder tersandung kasus.
Regulasi makin ketat.
Investor makin hati-hati.
Dan sekarang perusahaan teknologi terbesar Indonesia pun terlihat sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah.
Tapi menurut saya justru di sinilah pertanyaan pentingnya.
Apakah yang sedang berakhir ini industri tech-nya?
Atau justru era lama industri tech?
Karena kalau diperhatikan, dunia tidak sedang meninggalkan teknologi.
Sebaliknya.
Investasi AI justru meledak.
Big Tech menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk infrastruktur baru.
Agentic AI mulai lahir.
Automation makin agresif.
Artinya yang sedang berubah mungkin bukan teknologinya.
Tapi model bisnis, cara bertumbuh, cara membakar uang, dan cara membangun perusahaan.
Mungkin yang sedang kita lihat adalah akhir dari satu bab.
Bukan akhir dari bukunya.
Yang jadi pertanyaan sekarang:
Apakah Indonesia sedang kehilangan momentum industri tech?
Atau justru sedang masuk fase reset untuk membangun generasi berikutnya yang lebih matang?
Saya penasaran melihat pendapat teman-teman.
Game over?
Atau restart?





