Anak startup pakai rompi pink lagi.
Dan jujur… makin lama makin bikin capek ngikutinnya.
Kali ini KoinWorks.
Startup fintech yang dulu sempat jadi salah satu harapan besar industri P2P lending Indonesia. Berdiri sejak 2016, dapat pendanaan besar dari investor global, kerja sama dengan bank besar, tumbuh cepat, user jutaan, valuasi naik, ekspansi ke mana-mana.
Tapi minggu ini, salah satu founder sekaligus jajaran management-nya diciduk Kejaksaan terkait dugaan fraud kredit Rp600 miliar.
Dan saya langsung keinget satu hal.
Sekitar tahun lalu, ada teman yang pernah bilang ke saya:
“KoinWorks ini kayaknya bakal kena kasus besar.”
Waktu itu saya masih berharap:
ah mungkin cuma issue operasional biasa.
Ternyata benar meledak.
Saya juga bingung mau komentar apa lagi.
Apakah memang dari awal by design dimainkan?
Atau ini efek samping budaya startup beberapa tahun terakhir:
growth at all cost,
financial engineering,
ngejar traction,
ngejar valuasi,
ngejar headline investor,
sampai lupa bahwa sektor finansial itu bukan playground biasa.
Ini P2P lending.
Diawasi OJK.
Mainannya uang orang.
Problemnya, ekosistem startup kita beberapa tahun lalu memang terlalu memuja growth.
Burn dulu.
Scale dulu.
Naikkan GMV dulu.
Profit belakangan.
Dan ketika mentalitas itu dibawa ke industri keuangan…
ya risikonya jadi beda kelas.
Yang bikin sedih sebenarnya bukan cuma kasusnya.
Tapi dampaknya ke generasi berikutnya.
Anak-anak Gen Z yang sekarang tertarik bangun startup teknologi, akhirnya terus melihat pattern yang sama:
startup → hype → funding → chaos → rompi pink.
Padahal kita sangat butuh lebih banyak technopreneur yang sehat.
Yang bangun bisnis dengan governance.
Dengan sustainability.
Dengan operational discipline.
Karena ujungnya:
yang bertahan bukan yang paling heboh growth-nya.
Tapi yang paling kuat fondasinya.
Kalau kamu lagi bangun startup, scaling bisnis, atau lagi mikirin transformasi digital & AI yang lebih sustainable — ngobrol aja.
DM saya atau colek langsung:





