481 Triliun Buat ASN. Tapi Masih Butuh Pro-Hired di Mana-Mana?
Akhir tahun lalu, saya ngobrol dengan dua teman baru.
Dua-duanya bukan ASN. Tapi mereka kerja di lembaga pemerintah & BUMN.
Saya: "Mas, sekarang lagi sibuk apa?"
Mas A: "Pro-hired mas, bantu digitalisasi di BUMN."
Mas B: "Saya juga dulu pro-hired di kementerian. Tapi udah gak lanjut... Soalnya saya ‘nempel’ di kepala bagian yang kena kasus. Yaudah, ga gajian."
Saya langsung mikir:
“Lho, memang ASN gak cukup kompeten untuk kerja-kerja strategis begini?”
Mas A jawab pelan:
"Banyak dari mereka lulusan teknik atau TI, tapi ya... sebatas formalitas. Kebanyakan masih mindset vendor-an. Proyek ya asal jadi. Biar cepat dapet poin tukin atau promosi."
Saya coba riset lebih sedikit.
Total ASN nasional (2024): 4,73 juta orang
(±3,57 juta PNS + ±1,17 juta PPPK)
- ASN Pusat (K/L): 1,03 juta
- “Pro-Hired” profesional eksternal di pusat: ±5.400 orang
- Termasuk stafsus presiden/wapres/menteri
- Tenaga ahli DPR
Semuanya di luar jalur ASN.
Semuanya dibayar dari APBN atau anggaran lembaga.
Dan semuanya jadi “tambal sulam” atas ketidaksiapan sistem kita sendiri.
Tapi yang bikin resah itu bukan angkanya.
Tapi normalisasinya.
“Loh gapapa dong mas, kan memang kita butuh orang kompeten.”
Ya, betul.
Tapi kalau kita udah bayar Rp481 triliun/tahun buat gaji ASN,
dan masih harus cari tenaga tambahan dari luar...
Berarti ada yang keliru.
Salah satu teman saya bilang begini:
"Di kementerian tempat saya bantuin,
orang-orang gak mikirin kenapa sistem harus dibangun.
Yang penting: ada proyek, ada tukin, ada potongan, ada komisi."
"Mikirin user experience?
Mikirin maintain sistem jangka panjang?
Lha... itu urusan vendor, ehh sekarang ada pro-hired yaa"
🟡 Mau mulai membangun personal branding profesional, **biar karier kamu gak mentok di** “**tukang kerja doang**”?
Join program bareng saya → s.id/branding-linkedin
🟡 **Mau mentoring atau diskusi soal profesionalisme** di dunia kerja digital? -> https://lnkd.in/gGbCrsfX
🟡 Gabung komunitas Tech Voice Indonesia
Tempat tech leader, praktisi, dan calon reformis berdiskusi bareng.





