Server Cost Naik → Data Governance Buruk
Beberapa tahun lalu, saya pernah bikin sistem teknologi yang terus dipakai sampai bertahun-tahun.
Semakin lama jalan, semakin kerasa satu hal:
👉 server cost makin naik.
Bukan cuma CPU atau bandwidth.
Yang paling terasa justru storage cost.
Apalagi kalau kita ikuti best practice: backup berlapis, high availability, zero downtime.
Semua itu ujung-ujungnya berbanding lurus dengan tagihan server.
Dan ternyata bukan saya saja yang ngalamin.
Contoh: GOTO dalam laporan keuangan mereka (karena sudah Tbk) mencatat, di akhir 2024 komitmen cloud services setahun mencapai USD 67 juta alias hampir Rp 1 triliun.
IT = Cost-Centre?
Di banyak meja manajemen, IT selalu dilihat sebagai cost-centre.
Padahal kalau sistem digital jadi channel utama transaksi, harusnya mindset cost-centre itu keliru.
Analogi sederhana:
Kita rajin top up server tiap bulan…
Tapi jarang mikir:
- Data apa yang kita simpan?
- Berapa persen dipakai?
- Berapa persen sebenarnya sampah?
Data Governance = Bukan Cuma Security
Banyak yang masih pikir data governance itu soal keamanan.
Padahal, governance juga soal efisiensi & value.
- Efisiensi: data yang jelas lifecycle-nya bikin server cost lebih ringan.
- Value: data yang dikelola baik bisa diputar jadi insight & bahkan revenue.
Beberapa perusahaan dan startup sudah mulai ke arah sini.
Mereka buka model revenue dari data utilization—bukan sekadar buang duit buat storage.
Dari Cost-Centre ke Revenue-Centre
Kalau data kita kelola dengan benar, mindset bisa berubah total:
dari IT yang dianggap beban, jadi IT yang menghasilkan nilai baru & revenue baru.
Kalau kamu CTO, CFO, atau decision maker yang sering sakit kepala lihat billing server bulanan—
- mungkin bukan soal teknologinya.
- tapi soal governance datanya.
Yuk ngobrol kalau mau diskusi lebih dalam.





